Puyer’s Go Blog

Say No To Puyer,Stop Polypharmacy And Back To Guidline(EBM)

50% Antibiotik Salah Guna

Penggunaan antibiotik yang tidak tepat menimbulkan penyakit-penyakit yang sulit disembuhkan. Jika ini berlanjut, akan banyak penyakit infeksi tidak bisa disembuhkan.”

Sri Indrawaty Dirjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kemenkes

SEKITAR 50% antibiotik di Indonesia diguna kan secara tidak tepat.

Kondisi itu meningkatkan ancaman bakteri kebal antibiotik.

Demikian diungkapkan Direktur Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Sri Indrawaty di Bekasi, kemarin.

Menurut Sri, contoh ketidaktepatan penggunaan itu antara lain 40% anak penderita diare akut diberi oralit dan antibiotik. Padahal semestinya tidak perlu. Selain itu, hanya 50%70% penderita pneumonia yang mendapat terapi antibiotik secara tepat.

“Penggunaan antibiotik se cara tidak tepat tidak hanya terjadi di Indonesia. Akibatnya, semakin banyak ditemukan kuman di dunia yang kebal terhadap antibiotik,” ujarnya.

Beberapa kuman yang diketahui kebal terhadap antibiotik antara lain methicillin-resistent stapphylococcus (MRSA), vancomycin-resistent enterococci (VRE), dan clebsiella pneumoniae. Infeksi ketiganya menimbulkan penyakit yang sulit disembuhkan.

Selain itu, sambung Sri, hasil penelitian Antimicrobial Resistent in Indonesia (AMRINstudy) yang melibatkan 2.494 masyarakat responden, diketahui 43%-nya terinfeksi bakteri penyebab gangguan pencernaan Escherichia coli (E-coli) yang kebal terhadap berbagai jenis antibiotik. Seperti, ampisilin (34%), ko-trimoksazol (29%), dan kloramfenikol (25%).

“Jika ini berlanjut, antibiotik yang biasa digunakan tidak lagi mampu bekerja optimal dan akan banyak penyakit infeksi tidak bisa disembuhkan karena membutuhkan antibiotik jenis baru,” cetusnya.
Dengan resep Untuk mencegah hal itu, sesuai anjuran Badan Kesehatan Dunia (WHO), Sri mengingat kan masyarakat untuk menggunakan antibiotik secara bijak.
Antara lain, dengan tidak sembarang mengonsumsi antibiotik tanpa resep dokter. Antibiotik juga tidak perlu digunakan untuk penyakit-penyakit yang disebabkan virus.

“Pilek, batuk, dan diare pada umumnya tidak memerlukan antibiotik, karena penyakit itu disebabkan virus, bukan bakteri,” imbuh Sri.

Kebiasaan cuci tangan menggunakan sabun atau antiseptik juga penting diterapkan untuk mengendalikan penyebaran bakteri kebal.

Sementara itu, sebagai bagian dari program penggunaan antibiotik secara bijak, Kemenkes telah mengeluarkan Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) pada tahun 2008. DOEN adalah daftar obat terpilih yang paling dibutuhkan dan yang diupayakan tersedia di unit pelayanan kesehatan, dan direvisi secara berkala tiap tahun.

Selain itu, untuk meningkatkan ketepatan penggunaan antibiotik di fasilitas layanan kesehatan, Kemenkes akan meluncurkan Pedoman Umum Penggunaan Antibiotik. Pedoman itu bakal menjadi acuan nasional dalam menyusun kebijakan antibiotik dan pedoman penggunaannya bagi rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya.

“Pedoman itu akan diluncurkan pada 7 April mendatang, bertepatan dengan Hari Kesehatan Sedunia,” pungkas Sri.
(*/H-2)

http://anax1a.pressmart.net/mediaindonesia/MI/MI/2011/04/01/ArticleHtmls/01_04_2011_020_018.shtml?Mode=0

April 1, 2011 - Posted by | Artikel

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: