Puyer’s Go Blog

Say No To Puyer,Stop Polypharmacy And Back To Guidline(EBM)

Bau Tak ‘Sedap’ Dari Puyer

Fakta  yg sudah terjadi  di negari ini :

Berbagai studi menemukan bahwa penggunaan obat untuk ISPA cenderung
berlebih. Penyebab pertama, keterbatasan pengetahuan petugas kesehatan
mengenai bukti-bukti ilmiah terkini, sehingga tak jarang tetap meresepkan
obat yang tak diperlukan (misal antibiotika dan steroid untuk common cold). Kedua,
keyakinan dan perilaku pasien. Contoh, kebiasaan memberikan injeksi pada
pasien dengan gejala pada otot-sendi. 43 puskesmas ikut dalam penelitian. Jumlah ratarata
obat yang diresepkan untuk ISPA anak dan dewasa, yaitu 3.62 dan 3,69. Pasien myalgia
mendapat rata-rata 3.24 jenis obat. Di sebagian besar kabupaten penggunaan
antibiotika untuk ISPA mencapai lebih dari 90%. Hanya beberapa puskesmas yang meresepkan
antibiotika kurang dari 70%.

Tujuan penelitian (1) menilai pola peresepan ISPA dan myalgia di puskesmas
di 8 kab/kota, SumBar (data peresepan retrospektif), dan (2) meningkatkan
mutu penggunaan obat untuk ISPA dan myalgia (dilakukan intervensi pelatihan
penggunaan obat rasional, melibatkan dokter dan perawat di 15 puskes).
Enam bulan pasca intervensi, penggunaan obat termasuk antibiotika dan
injeksi menurun bermakna. Rata-rata jumlah obat untuk ISPA pada anak turun
dari 3.74 + 0.58 menjadi 2.47 + 0.67 (p<0.05) (dokter) dan dari 3.67 + 0.49
menjadi 2.39 + 0.73 (p<0.05) (perawat). Penurunan penggunaan antibiotika pada anak
dengan ISPA secara bermakna hanya ditemukan pada perawat, dari 81.37%
menjadi 42.40%.
Proporsi pasien dewasa dengan ISPA yang mendapat antibiotika Turun bermakna
dari 89.18% menjadi 44.15% (p<0.05) (dokter) dan dari 91.22% menjadi 38.71%
(p<0.05) (perawat). Penggunaan injeksi juga turun bermakna pada pasien
myalgia, yaitu dari 69.11% menjadi 31.89% (p<0.05) (dokter) dan dari 79.56%
menjadi 62.91% (p<0.05) (perawat).

————————————————————————————–

Yayasan Orang Tua Peduli (YOP) melakukan 2 penelitian cross sectional dengan mengumpulkan resep yang di email ke mailing list kami, penelitian kedua, mengumpulkan resep dan kwitansi yang dikirim ke markas YOP.

Resep yang ditelaah adalah resep untuk anak dengan 4 kondisi : batuk pilek demam (ISPA), demam, diare akut (dengan atau tanpa muntah), dan batuk tanpa demam lebih dari 1 minggu.

Berikut ini ringkasan penelitian pertama dengan responden 160 anggota mailing list.

Jumlah obat.
Median jumlah obat yang diresepkan adalah 5 (dengan rentang 2 – 11 obat).

Batuk merupakan kondisi yang jumlah obat dalam peresepannya paling tinggi yaitu 11 obat.

Dengan tingkat peresepan puyer sebesar  :

– 55,4% pada diare akut

–  72,6% pada demam

–  77,4% pada ISPA

–  87% pada batuk

Antibiotik:

– 87% pada anak demam

– 75% pada diaare

– 54.5% pada ISPA

– 47% pada anak batuk tanpa demam.

Generik:

– 0% pada kasus demam

– 5% pada diare akut

–  7% pada ISPA

– 10,5% pada batuk tanpa demam
Steroid:

– 60,9% pada batuk

– 50,9% pada ISPA

–  53,5% pada demam

– Bahkan 18,5% anak diare diberi steroid (umumnya triamnisolon).

Tingginya tingkat pemberian steroid juga sangat memprihatinkan yang
sebetulnya tidak akan terjadi apabila bekerja sesuai guideline”.
Tambahan:

Peresepan suplemen (multivitamin, ensim, perangsang nafsu makan”,
atau imunomodulator”, cukup tinggi :

– 21,9% pada ISPA

– 34,9% pada demam

-2,4% pada batuk

– Paling tinggi pada diare yaitu 61,9%.
Biaya:

– Pada ISPA, Rp 15,000 – Rp 747,000;-  median 117.500

– Pada demam Rp 20.800 – Rp 137.000, maksimum Rp 326,000

– Pada diare akut Rp 56.000 – 161.000, maksimum Rp 349.000.

Analisis biaya pada peresepan pediatri di Jakarta menunjukkan tingginya biaya ketika dokter tidak bekerja sesuai
guideline. Padahal, biaya bukan sekedar rupiah.

Harm” atau potential harm” juga biaya.

selengkapnya :
http://purnamawati.wordpress.com/2008/06/02/rational-use-of-medicine-rum/
Fakta lainnya :

http://video.okezone.com/play/2009/02/12/235/7343/dokter-cawang-dibanjiri-pasien

http://bdwiagus.blogspot.com/2009/02/puyer.html

Ida Z. Hafiz, Dra, Apt, Msi

Data yang diperoleh dari  beberapa tempat pelayanan kesehatan, mengenai
peresepan puyer untuk anak di Jakarta :

a)  Setiap hari rata-rata apotik Rumah Sakit  X di  Jakarta membuat  130
resep puyer untuk memenuhi permintaan resep dokter.

b)  Data dari  Apotik  R di Tangerang , dari sekitar 30 lembar resep obat
untuk anak-anak yang masuk setiap hari , 2/3 dari obat yang diresepkan
adalah dalam bentuk puyer.

c)   Demikian juga data dari Apotek Klinik Spesialis  Anak, K   di Jakarta Selatan,

1. R/  Metilprednison     4 mg

mf pulv dtd                     No. XX

Aturan pakai:

14/4 – 16/4/08:  3×21/2 bungkus

20/4 – 23/4/08:  3×1 bungkus

24/4 – 27/4/08:  3×1/2 bungkus

28/4 – 30/4/08:  2×1/2 bungkus

========================&

Pro:  An. Sariska ( 9 bulan)

WD /Syndroma nefrotik.)

Resep dituliskan oleh mahasiswa xxxx  tk.5 yang sedang berada di Dep.Farmasi
Kedokteran xxxx

Analisis:

1.      Penulisan nama obat seharusnya metil prednisolon, harus di
konfirmasi kebenaran nama tersebut

2.      Jumlah total puyer yang diminta adalah  39 bungkus, tertulis 20
bungkus. Perlu konfirmasi mengenai jumlah yang diresepkan.

Komentar: Penulisan resep ini memang dapat membuat penyiapan obat yang lama
dan dapat menurunkan mutu pelayanan di  apotik . Mengingat ketersediaan
tablet metil prednisolon adalah 4 mg, 8 mg dan 16 mg sebaiknya peresepan
langsung bentuk tablet dan pasien diberikan edukasi mengenai cara
pemberiannya. Bila di Rumah Sakit maka dapat di siapkan per single unit dose

2. Resep yang berasal dari Klinik Spesialis dan Umum di Jakarta Selatan.

Ketersediaan produk:

a) R/ Hexer      1/3         Hexer : Ranitidine tab.150 mg,caplet 300
mg

Dometic      1/3         Dometic: Domperidon tab. 10 mg, sirup
(5mg/5ml ) 60 ml

Largactil     1/3         Largactil : Chlorpromazine tab. 25, 100
mg

m.f.p.dtd. No.X

S.t.d.d. I .a.c

————————

b) R/Neurosanbe plus175 mg                Neurosanbe plus (Sugar
coated tablet) Isi :

Alegi                        ½                      Vit B1
50 mg, Vit B6  100 mg,

Luminal                    7,5                    Vit B12
100 mcg, metamizol Na 500 mg

Efedrin                       4 mg              Alegi  tab
Isi :

Codein                       3 mg
Dexametason 0,5 mg

Lapimuc                    1/3
Deksklorfeniramine maleat 2 mg

DMP            5 mg                             Lapimuc :
Ambroksol HCl tab 30 mg

m.f.p.dtd. No.XII

S.t.d.d. I .a.c

————————

Pro: Lintang (5 tahun)

Analisis:

Resep 2a.: Hexer  1/3,Dometic 1/3  dan Lapimuc 1/3 ; karena tidak dijelaskan
satuannya , perlu konfirmasi apakah tablet atau gram.

Hexer apakah tablet( 150 mg ) atau kaplet (300mg) yang diambil karena
dosisnya berbeda. Perlu konfirmasi.

Resep 2b. :

Neurosanbe plus  175 mg, tidak dapat diketahui jumlah tablet yang diambil.
Asumsi yang diperlukan adalah metamisolnya, maka jumlah metamisol yang
dibutuhkan  175mg x 12 =2100 mg . Jumlah tablet yang diambil 4 1/10 tab.

Luminal 7,5. Bila dalam resep tidak dicantumkan satuan maka kesepakatan
diambil gram, yang berarti 7,5 gram luminal per bungkus perlu konfirmasi.

Komentar:  Resep puyer ini sarat & kental dengan masalah safety dan kualitas
seperti yang telah disebutkan oleh praktisi yang tidak menyetujui peresepan
puyer.  Farmasis harus mulai mempersoalan peresepan yang seperti ini.

Berat badan pasien sebaiknya dicantumkan sehingga dapat diketahui dosis yang
diberikan.

Belum yang terungkap…..?????

March 21, 2009 - Posted by | Artikel

5 Comments »

  1. Peresepan puyer di masa lalu dilakukan karena distribusi obat paten yang belum merata di seluruh Indonesia. Namun penyebab utamanya adalah menekan biaya yang harus dikeluarkan pasien untuk membeli obat (puyer = obat generik racikan sendiri, murah karena tidak ada biaya pabrik, tidak ada biaya iklan).

    Kesalahan segelintir dokter dalam meresepkan puyer tidak bisa dijadikan alasan “mengharamkan” puyer, karena bukan puyernya yang salah, tapi peresepannya yang pada segelintir kasus ada kekeliruan.

    Jangan terlalu anti puyer dengan mengatasnamakan pelayanan kesehatan bagi rakyat, tapi malah para pengusaha farmasi besar yang tertawa terbahak-bahak.

    Comment by marvin | February 23, 2009 | Reply

    • setuju untuk di indonesia skrg…

      Comment by rizal | May 29, 2009 | Reply

  2. # Pak Marvin

    Harusnya malah buntung industri farmasi bukannya malah untung, makanya pada kebakaran jenggot….comfort zone….maklumlah…..

    Sehat itu murah.

    Kembalikan sebagaimana mestinya (EBM/RUM).

    Hapus Polifarmasi, jalan masuknya adalah puyer.

    Say No To Puyer

    Comment by bapakeghozan | February 24, 2009 | Reply

    • mungkin bukan bentuk puyernya yg di permasalahkan tp polifarmasi yg irasional..

      Comment by rizal | May 29, 2009 | Reply

  3. puyer masih di perlukan utk kasus2 tertentu,contohnya pd bayi di bwh 1 thn krn sedian obat bentuk syr ato drop nya ga byk, lagian obat2 bentuk drop rata2 harganya mahal , kasian rakyat kecil, cuma pemakaiannya harus rasional..oke

    Comment by rizal | May 29, 2009 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: