Puyer’s Go Blog

Say No To Puyer,Stop Polypharmacy And Back To Guidline(EBM)

Menggugat Penyalahgunaan Obat-obatan

Oleh: Warastuti

Aldi Deswanto (26 tahun) paham benar. Di setiap malam Ahad, pemuda tanggung itu pasti bertandang ke apoteknya. Keluhannya pun sama: batuk.Obat yang diminta juga khas: Dekstrometorfan Hbr. Obat ini berfungsi meredakan batuk kering yang cara kerjanya menekan batuk dari saraf.

Yang membuat Aldi heran, pemuda itu selalu menolak ketika ditawarkan obat batuk cair lain yang mengandung pula dekstrometorfan. ”Dia keukeuh, maunya yang tablet,” jelas Aldi.Tapi, Aldi bukan medioker yang naif. Dia mencium keanehan pada penampilan pemuda itu. Dugaan kuatnya, si pemuda hobi mabuk. Dan memang, dekstrometorfan mempunyai efek samping mengantuk. Sebagai apoteker, Aldi tahu benar Dekstrometorfan Hbr sering menjadi menu pelezat pesta mabuk-mabukan atau narkoba. Dengan alasan kuat, akhirnya Aldi menolak permintaan si pemuda dengan halus.

Selain Dekstrometorfan, Aldi juga pernah menerima resep tablet Diazepam 30 butir. Diazepam adalah nama zat aktif yang lazim terkandung dalam obat penenang atau sedatif. Obat ini biasanya bekerja di sistem saraf pusat. Dalam penggunaannya Diazepam berpotensi menimbulkan efek ketergantungan. Menengarai adanya kejanggalan dari nama dokter dan nomor telepon dokter pemberi resep yang tidak jelas, akhirnya Aldi pun menolak resep tersebut.

Kali lain, Aldi bercerita, datang seorang ibu yang hendak membeli pil KB. Tapi, tidak mengerti bagaimana cara mengonsumsinya. Selama ini, si ibu itu berpikir pil KB dapat diminum semaunya saja. Apoteknya, jelas Aldi kepada ibu itu, memilih tidak menjual obat-obat yang mungkin menciptakan ambiguitas kegunaan. Di lain kesempatan, Aldi terpaksa menolak seseorang yang hendak membeli obat mag yang mengandung zat aktif misoprostol.

Siapa yang menyangka ada bahaya mengancam di balik obat mag? Misoprostol, senyawa yang digunakan untuk menstimulasi sekresi lendir di lambung, ternyata sering disalahgunakan sebagai obat penggugur kandungan. Kerjanya dalam meningkatkan kontraksi atau regangan otot berefek fatal bagi janin. Singkat cerita, dengan sifat tersebut, misoprostol justru dimanfaatkan untuk mengeluarkan janin yang tak dikehendaki dari rahim.

Ironisnya, obat dengan kandungan misoprostol dapat diperoleh mudah di pasaran. Harganya juga relatif murah. Tak salah membelinya secara bebas, karena memang obat mag ini tidak tergolong obat keras. Belakangan, masyarakat juga diributkan oleh racikan puyer. Berbagai blog dan mailing list ramai membahasnya. Padahal, praktik puyer bukan hal baru dalam keseharian. Kali ini masyarakat disadarkan akan akibat fatal peracikan obat tanpa standar yang benar.

Penelitian yang dilakukan oleh Yayasan Orangtua Peduli (YOP) menemukan tingkat peresepan puyer yang begitu tinggi bagi anak-anak. Tercatat tingkat peresepan puyer mencapai 55,4 persen pada diare akut; 72,6 persen pada demam; 77,4 persen pada ISPA atau infeksi saluran pernapasan atas; dan 87 persen pada batuk. Yang lebih mencengangkan ialah tingkat peresepan antibiotik dan steroid yang begitu tinggi diberikan kepada anak-anak. Padahal, bagi anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan, obat-obatan ini berefek luas pada hormon dan organ vital, seperti hati dan ginjal.

Terlebih, harga obat-obatan ini relatif mahal. Tak heran penelitian yang sama mencatat biaya pengobatan pediatris yang tinggi. Semua obat ditumbuk jadi satu. Itulah prinsip sederhana racikan puyer. ”Toh akhirnya masuk ke perut juga. Justru lebih praktis,” begitu pikir logika awam sebagian masyarakat kita. Namun, masalahnya tak sesederhana aksioma 1+1= 2. Linearitas tak selalu berlaku dalam ilmu obat-obatan.

Sekilas, obat-obatan memang tampak sama. Serbuk, tablet, pil, dengan warna dominan putih, rasa hambar atau terkadang pahit.Tak mudah memang memahami bahwa beberapa obat dapat mengakibatkan kematian dalam jumlah hanya sepersekian miligram. Tak mudah menyampaikan kepada publik bahwa obat juga dapat menjadi racun dalam kondisi yang tak disyaratkan.

Peran apoteker
Mencermati kasus penyalahgunaan obat yang marak terjadi, publik layak menggugat para praktisi kesehatan profesional. Lebih jauh lagi, peran apoteker sebagai profesi dengan cakupan keahlian obat-obatan pun boleh dipertanyakan. Aldi adalah salah satu apoteker muda idealis yang bertekad berjuang melalui profesinya. Tak cuma ingin mencetak angka penjualan obat yang tinggi, dia juga berkomitmen memberikan edukasi dan panduan obat kepada masyarakat.

Ketua Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI) Jawa Barat, Kusmeni S Hartadi, memaparkan, profesi apoteker seharusnya berdiri sama tegak dengan profesi kesehatan lain. ”Obat adalah privilege apoteker,” tegas Kusmeni dalam percakapan dengan Republika akhir pekan lalu. Pada kenyataannya, profesi ini kian tenggelam oleh ingar-bingar bisnis dan tarik-menarik kepentingan. Kusmeni menuturkan peyorasi peran apoteker di negeri ini sudah berlangsung sejak lama.

Menyikapi gejala tersebut, sejak 2006 ISFI mulai melakukan apa yang disebut pemurnian profesi. Program ini terutama ditujukan bagi para apoteker yang berkiprah di farmasi komunitas atau apotek. Kusmeni menegaskan persoalan obat dari hulu ke hilir harus berada di bawah kendali pihak yang kompeten, yakni apoteker. Seorang pejabat dinas kesehatan yang enggan disebutkan namanya menyayangkan anggaran yang minim dalam pengawasan obat-obatan. Dia juga mengeluhkan kelumpuhan peran apoteker dalam dunia kesehatan di Indonesia.

”Sepertinya para apoteker sekarang perlu diasah kemampuan komunikasi dan politiknya,” ujarnya, kesal. Senada dengan pernyataan tersebut, Kusmeni mengungkapkan, setiap profesional kesehatan harus mengerti benar ranah perannya. Tujuannya, bias dan kekacauan dalam layanan kesehatan, seperti juga dalam peredaran obat-obatan, dapat dicegah.

Berdasarkan data di tahun 2003, Kusmeni menyebut jumlah apoteker di Indonesia berkisar 8.000 orang, dengan angka pertumbuhan kurang lebih empat persen per tahun. Dalam konsep pemerataan layanan kesehatan, menurut Kusmeni, jumlah apoteker di Indonesia masih sangat kurang. Di negara-negara mapan, seperti Jepang, rasio apoteker dengan jumlah penduduk adalah 1: 2.000 jiwa. Sementara di Indonesia, dengan jumlah penduduk 230 juta jiwa lebih, jumlah tenaga apoteker yang dimiliki baru berkisar 25 ribu orang.

Sumber : Republika

February 19, 2009 - Posted by | Artikel

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: