Puyer’s Go Blog

Say No To Puyer,Stop Polypharmacy And Back To Guidline(EBM)

Mengapa Puyer…?

Oleh : Dr. Ian

Ketika saya lulus menjadi seorang dokter, terus terang saya bagaikan orang
buta yang baru pernah melihat merasa senang kegirangan karena status dokter
yang saya sandang, tetapi masih meraba raba juga karena belum tahu apa yang
harus saya lakukan.

Menangani pasien pertama kalinya (sebagai seorang dokter tentunya) merupakan
suatu kebanggaan tersendiri. Pasien datang, mendengarkan keluhannya,
memeriksa, dan memberikan obat.
Puas? Tentu saja puas rasanya. Pasien puas, karena keluhan berkurang bahkan
menghilang. Dan bulan berikutnya pasien ada keluhan mereka kembali kepada
saya karena merasa cocok dengan obat yang saya berikan.

Sebagai catatan ketika saya bilang pasien, termasuk orang tua pasien untuk
pasien saya yang tergolong anak anak. Anggap saja saya sedang membicarakan
pasien anak anak.

Tapi apakah saya sudah menangani pasien tersebut dengan baik? Tentu saja
TIDAK jawabannya.
Mengurangi keluhan pasien bukan berarti menyembuhkan, bahkan tanpa disadari
bisa membahayakan pasien.

Ada satu titik balik dimana saya menyadari terdapat kesalahan dalam
penanganan pasien saya selama ini, dan di kemudian hari saya bertemu dengan
komunitas yang membuat saya semakin belajar dan belajar setiap harinya.

Sebelumnya puyer menjadi andalan saya, pasien (orang tua pasien) puas, waktu
yang dibutuhkan untuk menangani pasien jauh lebih singkat. Cukup berkata: oh
ini batuk pilek, obatnya cukup minum, 3 hari tidak sembuh balik kembali.
Rutinitas yang saya lakukan selama sekitar 6 bulan pertama saya menjadi
dokter.

Sampai suatu saat saya menemukan suatu kejadian yang begitu menampar saya.
Datanglah seorang pasien berumur 5 bulan, datang dengan keluhan mencret
mencret. Seperti biasa, meresepkan puyer sepertinya sudah ada cetakan
tersendiri di otak saya. Lalu saya berikan resep puyer yang kurang lebih
fungsinya menghentikan kerja usus, sehingga keluhan mencret mencret
berkurang.
Apa yang terjadi. Apakah puyer yang saya berikan menjadi solusi atas kasus
pasien saya? Ternyata tidak. Pasien saya tidak mencret lagi, tetapi jatuh ke
dalam kondisi dehidrasi sedang. Karena apa? Sudah merasa yakin dengan puyer
yang saya berikan, sehingga lupa dengan tata laksana diare akut yang
seharusnya, pemberian larutan rehidrasi oral.

Sejak saat itu saya menyesal, bukan hanya menyesali perbuatan saya yang
melupakan guideline, tetapi penyesalan itu dilanjutkan dengan penyesalan
dengan entah berapa resep puyer yang saya berikan.

Terkadang saya merasa, Tuhan sangat baik terhadap saya. Masih menuntun saya,
meskipun dengan tamparan, ke jalan yang seharusnya.

Ketika saya masih merasa tidak ada yang salah dengan puyer, tapi di
komunitas itu memperdebatkan penggunaan puyer. Lalu saya bertanya pada diri
saya sendiri. Saya yang salah atau mereka yang menentang puyer yang tidak
mengerti.

Lalu pertanyaan pertanyaan yang mengalir di komunitas itu membuat saya lebih
membuka mata saya, memanfaatkan teknologi canggih untuk memperbaharui
keilmuan saya. Dan ternyata sebenarnya itu bukan ilmu baru, hanya saja saya
yang terlalu malas dan bodoh untuk mengamalkan pelajaran saya yang
semestinya.

Mengapa saya harus memberikan puyer? Saya tidak hidup di daerah yang
terpencil. Dimana akses untuk obat obatan dosis anak mungkin sulit sekali.
Dan kalaupun membutuhkan obat hanya satu jenis saja, tapi rasanya
parasetamol sirup bisa diusahakan, hanya kalau terdesak baru menggunakan
parasetamol tablet yang dihancurkan (note hanya parasetamol tablet)

Ya… saya telah bermain main dengan 3 hal. Puyer, polifarmasi, dan
pengobatan yang tidak rasional.

Lalu kemanakah ilmu farmakologi saya. Menguapkah seiring dengan kenaikan
tingkat saya. Lupakah saya bahwa setiap obat dikemas sedemikan rupa sesuai
dengan cara penggunaannya. Lupakah saya dengan interaksi obat. Dua obat yang
dicampur saja risiko interaksi obat cukup berat, apalagi tiga atau empat
macam obat. Mungkin saya tidak lupa dengan interaksi obat, tetapi saya tidak
paham betul dengan interaksi obat.

Lalu dimana ilmu klinis saya. Apa iya setiap pasien dengan keluhannya, yang
diterapi adalah keluhannya bukan diagnosis atau penyakit itu sendiri.

Apa iya saya harus memberikan puyer hanya karena pasien saya (orang tua
pasien) merasa hanya puyer yang manjur untuk keluhan anaknya.
Apa iya saya harus memberikan puyer hanya untuk mempersingkat waktu
kunjungan dibanding saya harus menjelaskan panjang lebar mengenai diagnosis
penyakitnya.
Apa iya demi semua kenyamanan orang tua, maka anak kecil harus menerima
risiko yang ditimbulkan oleh puyer.
Apa iya memberikan puyer supaya harga obat yang harus ditebus bisa lebih
murah? Lalu bagaimana dengan risiko penyakit yang ditimbulkan dari puyer,
apa bisa tergantikan dengan harga obat yang murah.

Saya tidak bisa membayangkan ketika parasetamol berinteraksi dengan diazepam
atau berinteraksi dengan luminal, akan menghasilkan metabolit yang justru
membahayakan hati anak tersebut yang nota bene belum berfungsi dengan baik.
Baru parasetamol saja, belum obat obatan yang lainnya.

Saya belajar dan belajar lagi. Sekali lagi Tuhan sayang sekali kepada saya.
Masih diberikannya kesempatan saya untuk memperbaiki diri saya.

Mengapa harus puyer? Jikalau keluhan yang disebabkan oleh virus sembuh
sendiri dan tidak membutuhkan terapi apapun. Mengapa harus puyer, jika
parasetamol sangat terjangkau dan dapat didapatkan di puskesmas dengan
gratis. Kalaupun tidak ada dosis yang sesuai, mengapa tidak sertakan
pemberian pipet atau spuit tanpa jarum untuk membantu pemberian obat. Atau
parasetamol tablet pediatrik pun bisa digunakan.
Apa tidak tahu bahwa anak batuk tidak boleh diberi obat batuk?
Apa tidak tahu bahwa diare tidak boleh diberi obat batuk?
Apa tidak tahu bahwa muntah tidak boleh diberi obat batuk?
Lalu apa gunanya diagnosis? Terapi sesuai dengan diagnosis bukan “a pill for
an ill”. Obat obatan simtomatik yang terkandung di puyer, tidak
menyelesaikan permasalahan, justru menimbun penyakit diam diam, efeknya
tidak hari ini tapi di masa depan.

Mengapa harus puyer, jikalau saya yang tidak paham mengenai farmakodinamis
dan farmakokinetik obat ini tidak berpikir secara higinis. Bersihkah mortar
tempat membuat puyer, dapat menjamin tidak tercampur dengan bahan bahan lain
atau tidak?

Mengapa harus puyer, jikalau saya yang harus menguasai keluhan umum, harus
membabi buta dengan memberikan puyer pada setiap keluhan pasien tetapi tidak
mengindahkan kaidah “good manufacturing practice”, dan apakah saya bisa
menjamin bahwa campuran itu homogen dan pembagian dosisnya sudah sesuai
ditiap-tiap bungkus puyer itu.

Apa saya bisa menjamin semuanya. Menjamin bebas dari interaksi obat,
menjamin kebersihannya, menjamin bahwa obat itu fungsinya tidak berubah
ketika bentuknya tidak sesuai dengan yang seharusnya?

Apa disekitar saya begitu terbatasnya sehingga saya tidak bisa memberikan
obat yang berbentuk sirup?

Apa saya tidak bisa meyakinkan kepada pasien bahwa, yang diterapi adalah
penyakit/diagnosis bukan keluhannya?

Apakah dektsrometorfan, luminal, efedrin, diazepam, kodein, ambroksol,
bromheksin, papaverin, teofilin, antibiotik, dan beberapa jenis obat lainnya
yang sering diresepkan pada puyer anak sebegitu mendesaknya untuk diberikan
kepada anak sehingga melupakan kaidah pengobatan yang seharusnya?
Apakah itu menjadi nilai ekonomis?

Jika puyer membantu, maka mengapa tidak ada standar dalam pembuatan puyer?
Apakah setiap dokter sama seperti rumah makan memiliki resep tersendiri
dalam pemberian obatnya? Lalu apa bedanya ilmu yang dipelajari? Apa gunanya
Guideline, apa gunanya text book?

Sampai saat ini saya tetap berkata tidak kepada puyer untuk menghindari diri
dari kesalahan-kesalahan yang pernah saya lakukan sebelumnya, Karena menjadi
dokter adalah amanah yang cukup berat. Memegang janji antara saya dengan
Tuhan saya Allah SWT. Jika saya tidak menggunakan puyer semata mata saya
takut dengan sang Khalik. Takut tidak menjalankan amanah dengan sebaik
baiknya.

February 14, 2009 - Posted by | Artikel

3 Comments »

  1. nggak tahu ya..
    tapi rasanya kok agak berlebihan,
    kalau menyangkutpautkan tamparan yang ada terima
    dengan puyer.

    itu keteledoran anda sendiri tentang kesalahan penanganan pasien diare, bukan masalah dari puyer itu sendiri.

    jadi rasanya apa yang saya baca diatas,
    merupakan hasil dari keputusan yang tergesa- gesa.

    Comment by ngga | February 23, 2009 | Reply

  2. nambahin..
    maksudnya itu kesalahan anda sendiri
    karena telah mendewa- dewakan puyer
    dalam setiap menangani pasien anda.

    kenapa anda tidak mempelajari apa yang terbaik bagi setiap pasien anda? kahan obat tu juga ada efek sugestinya..
    kalo emang ada paien yang merasa lebih mantap kalo pake puyer..
    ya sudah loh..
    anda tinggal mempelajari tekhnik puyer yang tepat untuk diberikan pada pasien bersangkutan.
    sedangkan kalau ada yang menolak untuk diberi puyer..
    ya jangan diberi puyer.

    sebagus apapun pengobatan yang diberikan,
    namun bila anda sendiri tidak bisa memberikan sugesti kepada si paien, yah saya pikir hasilnya juga tidak akan sempurna🙂

    Comment by ngga | February 23, 2009 | Reply

    • # kalau salah ya harus dibenerin..bukan dibiarin salah..kembali ke EBM/RUM

      Comment by puyer | February 24, 2009 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: