Puyer’s Go Blog

Say No To Puyer,Stop Polypharmacy And Back To Guidline(EBM)

Kontroversi Puyer dan Polifarmasi

Rabu, 4 Maret 2009 | 05:39 WIB

Oleh IRWAN JULIANTO

Obat telah lama menjadi bahan perdebatan yang tak berkesudahan. Konsumen boleh saja adalah ”raja” dalam menentukan pilihan untuk hampir semua jenis barang dan jasa yang akan dibelinya, kecuali untuk soal obat: ia harus memasrahkan pilihan dan nasibnya pada ujung pena dokter.

Sejarah telah menunjukkan, otoritas meresepkan obat yang diberikan kepada profesi kedokteran terbukti kerap disalahgunakan. Ini menimbulkan pengobatan yang irasional dan merugikan konsumen. Ivan Illich adalah salah satu kritikus terkemuka yang berani mengungkap fakta buruk dunia medis di negara maju maupun miskin yang justru mengubah ”kesehatan” menjadi ”kesakitan”.

Awal dekade 1980-an jejak Illich diikuti para kritikus lain, seperti Dianna Melrose (menulis buku Bitter Pills-Medicines and the Third World Poor, 1982), Milton Silverman (Prescription for Death-The Drugging of the Third World, 1982), Charles Medawar (The Wrong Kind of Medicines, 1984), hingga John Braithwaite (Corporate Crime in the Pharmaceutical Industry, 1984). Mereka umumnya membongkar praktik-praktik penyuapan terhadap para dokter yang dilakukan oleh industri farmasi lokal hingga yang multinasional.

Sayangnya, para aktivis prokonsumen ini dan gerakan konsumen sedunia gagal menekan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk mengatur peresepan obat yang rasional. Alih-alih mengulang keberhasilan gerakan konsumen internasional menekan WHO dan Unicef mengatur pemasaran susu formula hingga tahun 1981 kedua badan PBB ini menerbitkan Kode Pemasaran Pengganti ASI, Dirjen WHO Halfdan Mahler asal Skandinavia yang sosialis tahun 1986 malah diganti oleh Dr Hiroshi Nakajima asal Jepang yang pernah bekerja di sebuah industri farmasi internasional.

Sejak itu gerakan konsumen untuk peresepan obat yang rasional kehilangan gereget. Apalagi dekade 1980-1990-an masyarakat dunia dipusingkan oleh pandemi AIDS. Kontrak-mengontrak industri farmasi dan dokter pun berjalan seperti biasa, bahkan kian parah. Obat-obat pun makin banyak diresepkan secara berlebihan (polifarmasi) dan tak rasional. Perusahaan farmasi swasta nasional lebih leluasa mengontrak para dokter karena margin keuntungan yang besar dari pembuatan ”obat-obat jiplakan” atau me-too drugs (Kompas, 22/11/2000).

”Caveat venditor”

Di tengah-tengah suasana ketidakberdayaan konsumen dan kokohnya hegemoni kuasa pena dokter ini, tiba-tiba stasiun televisi RCTI bulan Februari lalu meluncurkan rangkaian liputan ”Polemik Puyer” yang menghebohkan. Yang digugat dalam liputan eksklusif itu adalah praktik peresepan dan pembuatan puyer yang sudah menjadi tradisi berpuluh tahun di Indonesia. Sayangnya, liputan yang begitu spektakuler sempat direduksi menjadi kontroversi higienis tidaknya pembuatan puyer. Padahal, soal yang lebih substansial adalah masalah keamanan puyer (terutama bagi bayi dan anak-anak), rasional tidaknya dalam peresepannya karena mayoritas puyer adalah campuran banyak jenis obat (polifarmasi).

Adalah dokter spesialis anak, dr Purnamawati S Pujiarto, SpAK yang pertama kali mengungkapkan betapa praktik peresepan polifarmasi banyak diberikan untuk pasien anak-anak dengan sakit yang umum, seperti diare, panas, batuk-pilek, dan masalah infeksi saluran pernapasan. Kebetulan polifarmasi itu diberikan dalam bentuk puyer. ”Ada anak usia belasan bulan dengan demam karena flu diberi resep campuran sampai 12 jenis obat, termasuk antibiotik dan obat penenang,” tuturnya.

Padahal, menurut Purnamawati, 95 persen anak dengan sakit yang umum cukup diberi satu-dua macam obat saja. Polifarmasi bukan saja merupakan pemborosan biaya kesehatan, juga dapat menimbulkan efek samping yang dapat berbahaya bagi bayi atau anak-anak kecil.

Kini dengan semakin terdidiknya para orangtua muda, seyogianya para dokter dan apoteker lebih berhati-hati dalam meresepkan dan menyiapkan obat bagi bayi dan anak-anak.

Ketika Kompas mengunjungi Markas Sehat yang dikelola Yayasan Orangtua Peduli di Jatipadang, Jakarta Selatan, Minggu (1/3) petang, terlihat betapa para orangtua muda kini makin kritis terhadap rasional tidaknya peresepan yang dilakukan para dokter. Dalam masa serba internet seperti saat ini, seruan ”konsumen berhati-hatilah” (caveat emptor) sudah harus berganti menjadi ”produsen atau penyedia jasa berhati-hatilah” (caveat venditor).

Ahli farmakologi klinik FKUI, Prof Dr Rianto Setiabudy, ketika dihubungi semalam menyatakan, puyer dan polifarmasi adalah dua hal yang secara substansial berbeda. ”Hanya memang selama masih ada kebiasaan memberikan obat berupa puyer, maka itu menjadi persembunyian yang aman bagi polifarmasi yang tidak rasional. Puyer hendaknya tidak dijadikan sebagai cara pemberian obat yang rutin,” katanya.

Prof Rianto menyarankan kebiasaan meresepkan puyer polifarmasi harus dihilangkan perlahan-lahan. ”Kalau dikatakan tidak ada yang salah dengan puyer, maka 5-10 tahun ke depan budaya puyer akan tetap ada di Indonesia. Padahal, negara-negara yang lebih miskin daripada Indonesia sekarang sudah tidak memakai puyer,” ujarnya.

Betul bahwa dokter tetap mempunyai otoritas meresepkan obat, tetapi kebiasaan peresepan (prescribing habit) yang tak rasional dalam bentuk polifarmasi harus ditinggalkan. Apalagi jika itu dilakukan secara sengaja karena mengejar imbalan dari industri farmasi. Menurut Prof Rianto, kalau itu karena kurangnya pengetahuan dokter tentang obat-obatan, kompetensi dokter masih bisa dikembangkan oleh organisasi profesi kedokteran.

Kini memang adalah era ilmu kedokteran dan farmasi rasional yang berbasis bukti, bukan ”seni” meracik obat lagi.

Sumber : Kompas

March 4, 2009 Posted by | Artikel | Leave a comment

Profesor Iwan: Perdebatan Puyer Mengarah ke Politis

Sedikit Komentar :

Prof. Iwan, membaca tulisan Bapak, tidak ada tuh indikasi kearah politis.

Barangkali yang perlu kita fahami bersama, bahwa puyer inikan sudah seperti rokok, sudah menjadi habitus sehingga untuk merubahnya perlu energi yang sangat besar.

Belum lagi musuh yang kita hadapi, kalau dulu jelas Londo, lah sekarang perusahaan multi nasional.

Jadi perlu suatu kebersamaan..suatu niat tulus….

Sudah saatnya masyarakat Indonesia menentukan pilihannya.

Jadilah konsumen ksehatan yang cerdas.

Be Smart

Be Healthier….

Senin, 02 Maret 2009 | 08:20 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Ribut soal obat puyer, yang menurut  pemberitaan media massa,  memiliki potensi bahaya, misalnya pemberian obat berlebih (polifarmasi).  Ikatan Dokter Indonesia beranggapan obat puyer tidak berbahaya. Perbedaan pandangan ini menimbulkan kebingungan di masyarakat.

Kata guru besar farmakologi pada Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Iwan Dwiprahasto, kontroversi puyer telah bergeser dari substansi ke arah politis. “Menurut saya, yang perlu diperhatikan adalah masalah keamanan. Ketika orang bicara masalah keselamatan pasien, puyer ini seharusnya tidak harus menjadi isu lagi,” ujar Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Farmakologi Indonesia ini. Kepada reporter Heru C. Nugroho dan fotografer Arif Wibowo dari Tempo, Iwan menjelaskan kontroversi itu. Termasuk hasil penelitiannya tentang praktek pembuatan puyer, yang menemukan 87 persen tidak memenuhi kaidah teknis. Berikut ini petikannya.

Mengapa isu tentang bahaya puyer mengemuka saat ini?
Ada masalah substansi yang dilupakan orang. Orang hanya sekadar mengartikan bahwa puyer itu sesuatu yang disajikan untuk alternatif dalam pemberian obat. Kalau kita lihat ke belakang, ketika orang mulai mengenal obat, memproduksi obat, nah, variasi tersedianya obat masih terbatas, (yakni) tablet polos semuanya. Kemudian bingung, bagaimana sediaan untuk anak? Dosisnya kan tidak ada. Maka kemudian dicampurkan, sehingga puyer nggak jadi masalah.

Dalam perjalanannya, obat itu jenisnya beragam. Ada yang tablet salut selaput, ada salut gula, yang itu sama sekali nggak boleh dihancurkan saat diminum. Ia harus dalam bentuk aslinya. Sebab, kalau dijadikan puyer, akan rusak. Yang lainnya lagi, ada obat-obat yang dalam bentuk sediaan lepas-lambat. Artinya, kalau diminum, ia tidak boleh diabsorbsi di lambung, harus lebih ke bawah lagi, atau secara bertahap dilepaskan di dalam lambung. Kalau (obat ini) dipecah, akan meningkatkan risiko efek samping pada pasien.

Jadi, kalau saya melihatnya dari aspek ilmiah, (isu bahaya puyer) ini sudah bergeser dari masalah substansi ke masalah yang lebih ke arah politis. Artinya, perdebatan membelok dari arah yang semestinya. Menurut saya, yang perlu diperhatikan adalah masalah keamanan. Ketika orang bicara masalah keselamatan pasien, puyer ini seharusnya tidak harus menjadi isu lagi.

Jadi puyer itu tidak ada masalah?
Bukan nggak ada masalah dengan puyer. Justru sekarang jadi masalah karena sebetulnya sediaan obat untuk anak yang dibuat dengan proses fabrikasi, (yang) steril dan sebagainya sudah cukup banyak tersedia. Kok, orang masih saja menggunakan puyer. Jadi, singkatnya, pada era yang seperti ini, mestinya kita sudah menggantikan cara-cara tradisional yang nggak jelas manfaatnya dan risikonya lebih besar dari aspek higienis dan sebagainya.

Kira-kira sejak 10 tahun lalu, saya sudah mendengung-dengungkan masalah medication error, antara lain soal mencampur-campur obat. (Padahal) orang yang meresepkan obat dalam bentuk puyer itu tidak mengerti sifat dari masing-masing obat, sehingga berbahaya untuk pasien. Misalnya, obat A dan obat B yang seharusnya dipisah. Yang A diminum pagi dan yang B seharusnya pada malam. Tapi dengan diracik, lalu diminum pagi semua, akan meningkatkan risiko efek samping. Nah, ini yang harusnya diluruskan.

Sebenarnya puyer itu apa? Adakah bahayanya?
Puyer, sejauh proses pembuatannya dengan cara-cara yang benar, nggak ada masalah. Pertama, aspek teknis, harus dibuat di tempat yang bersih. Misalnya dicampur di lumpang, maka setiap kali sesudah digunakan oleh satu pasien, lumpang itu harus dibersihkan dengan cermat. Sebagian besar apotek, lumpangnya hanya satu dan dipakai terus, nggak pernah dicuci.

Kedua, masalah kompetensi. Yang meracik obat itu biasanya asisten apoteker yang punya keterbatasan dalam hal pengetahuan. Dia tidak diajari pengetahuan apakah beberapa obat yang diberikan bersamaan itu bisa berbahaya bagi tubuh atau tidak.

Ketiga, masalah pengetahuan. Bisa pengetahuan dokternya, bisa pengetahuan petugas apotek. Dokter meresepkan obat puyer, tujuannya meningkatkan ketaatan pasien dalam meminum obat. Ternyata, dalam perkembangannya, dokter itu tidak menyadari bahwa ada obat yang nggak boleh dicampur, ada sifat fisiko-kimiawi yang tidak bisa bercampur.

Contohnya mencampurkan antibiotik dengan obat penurun demam. Ini kan membahayakan si anak. Mengapa? Karena kontradiksi. Antibiotik harus diminum terus-menerus sampai habis, sedangkan obat penurun panas diminum saat demam saja. Bila obat dicampur, anak ini akan terpapar oleh obat yang nggak perlu. Ini akan berisiko efek samping.

Lalu soal pengetahuan pharmacist (ahli farmasi). Seberapa banyak sih apotek yang mencampurkan obat itu di bawah orang yang memang knowledgeable. Pharmacist itu bertanggung jawab sepenuhnya kalau ia melihat ada obat yang nggak boleh dicampur. Dia harus menghubungi dokter (yang meresepkan). Celakanya, pharmacist-nya juga nggak tahu bahwa itu nggak boleh dicampur. Daripada susah-susah menelepon dokter, apalagi dokternya marah kalau ditelepon, dia tidak lakukan itu.

Tiga hal inilah yang, bagi saya, menjadi titik tolak mengapa saya mengatakan bahwa kontroversi puyer ini sudah menyimpang dari substansi ke arah yang sedikit dipolitisir. Kalau tiga hal ini dibenahi dulu, akan kita peroleh hasil yang baik.

Artinya, kalau tiga aspek itu dipenuhi, puyer itu aman?
Aman. Tidak perlu ada rebut-ribut seperti saat ini. Masalahnya, siapa yang akan memonitor bahwa peracikan obat itu sudah dilakukan dengan benar berdasar tiga aspek itu?

Apa itu polifarmasi?
Polifarmasi itu definisinya adalah pemberian berbagai jenis obat untuk indikasi yang meragukan bagi kita. Misalnya, seorang pasien datang dengan keluhan batuk, pilek, demam, pusing dan pegal-pegal. Lalu, setiap gejala yang dikeluhkan diberi obat sendiri-sendiri. Padahal mestinya diobati secukupnya saja. Tidak “ditembak” satu per satu. Studinya banyak sekali yang menyebutkan, semakin banyak obat yang diberikan, semakin besar risiko terjadinya efek samping.

Bagaimana praktek pemberian resep puyer yang banyak terjadi di Indonesia?
Kami pernah meneliti, 87 persen tidak sesuai dengan kaidah teknis. Semuanya masih dengan cara tradisional, digerus, kemudian cara pembaginya juga salah. Coba kalau kita lihat, cara pembaginya ya hanya dikerok dengan kertas dan kemudian dibagi-bagi dalam beberapa bungkus. Antara satu bungkus dan bungkus lainnya tentu dosisnya sudah berbeda.

Kalau aspek teknisnya saja sudah salah, saya mengatakan jangan pakai puyer kalau apotek saja tidak bisa menjamin bisa melakukan dengan baik. Ada apotek yang mengatakan selalu mencuci. Kami menemukan 87 persen (lumpang) tidak dicuci. Bahkan kadang-kadang bisa saja berhari-hari baru dicuci karena merasa pasiennya banyak. Ini kan bahaya.

Mengapa dokter kerap meresepkan puyer, terutama untuk pasien anak?
Ini masalah ilmu tradisional. Mencampurkan obat menjadi puyer akan meningkatkan ketaatan (meminum obat). Daripada harus berkali-kali minum, lebih praktis jika sekali minum. Kedua, agar lebih cespleng (manjur).

Yang jelas, dengan puyer, zaman dulu, akan lebih murah karena jumlah obat yang masih terbatas. Misalnya, parasetamol itu harganya kan hanya Rp 30, lalu dicampur-campur dengan obat lain sehingga jadi murah. Tapi sekarang tidak lagi. Banyak dokter yang memberi resep bukan dengan obat generik, tapi dengan brand name drug (obat bermerek). Obat-obat yang mahal-mahal lalu dia campurkan, maka jadinya puyer itu mahal.

Mengapa dokter anak tidak mengubah kebiasaan meresepkan puyer ini?
Saya juga nggak tahu. Saya kira ini nanti tugas organisasi profesi. Ikatan Dokter Anak Indonesia mestinya mengambil inisiatif untuk melihat kembali apakah praktek itu masih benar. Di tempat-tempat terpencil, misalnya, memang sulit mendapatkan sediaan obat yang macam-macam. Jadi puyer mestinya masih bisa. Tapi di kota besar seperti Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya, misalnya, kan apotek sudah ada di mana-mana. Setiap 100 meter ada apotek, sediaan obat bermacam-macam, maka tidak masuk akal kalau dokter itu meresepkan puyer. Celakanya lagi, merugikan pasien. Untuk mengambil puyer itu kan harus menunggu lama. Lebih banyak mudaratnya dibanding manfaatnya.

Apa benar dokter-dokter Bangladesh dan India sudah tidak lagi meresepkan puyer?
Yang saya lihat di India, enam atau tujuh tahun lalu, masih ada resep puyer, tapi dilakukan oleh traditional healer, seperti dukun dan mantri-mantri di pelosok. Bukan dokter. Tidak ada resep di apotek berupa campuran beberapa obat. Apakah kita ini dokternya sekualitas mantri di India (tertawa)? Kecuali kalau mau menurunkan kastanya.

Apa yang harus dilakukan pasien dan keluarganya saat menerima resep obat dari dokter?
Pasien punya hak bertanya, hak minta dijelaskan, hak mengklarifikasi apa yang dia terima. Pasien punya hak bertanya obat ini jenisnya apa, kapan harus minum, dan sebagainya. Dokter harus menjelaskan, diminta atau tidak diminta.

Kalau, karena keterbatasan waktu, pasiennya banyak, jawabannya tidak enak, misalnya, dan pasien tidak mendapat informasi yang cukup, dia bisa menanyakan kepada apotek. Di apotek, harus ada pharmacist atau apoteker. Kalau apotek tidak ada pharmacist, itu sama dengan toko obat karena tidak ada orang yang kompeten atau bisa bertanggung jawab atas masalah-masalah yang berkaitan dengan obat.

Kalau perlu, minta klarifikasi. Misalnya puyer ini obatnya apa saja, tolong jelaskan. Bolehkah obat ini dicampur-campur seperti ini. Pasien juga berhak bertanya soal harga obat dan berhak meminta obat yang harganya lebih murah atau obat generiknya. Kadang-kadang apotek memang menjawab hanya menjalankan perintah dokter. Kalau apotek takut dikomplain dokternya, pasiennya kan bisa diminta tanda tangan bahwa pasiennya minta obat yang lebih murah dan memang tersedia. Daripada pasien tidak sembuh karena tidak bisa beli obatnya, lebih baik ada alternatif lain. Itu hak pasien untuk bertanya sampai di level apotek.

Benarkah calon dokter mendapat pelajaran matakuliah farmakologi tentang meracik puyer?
Farmakologi UGM sudah sejak lebih dari 10 tahun lalu tidak lagi mengajarkan ilmu meracik obat. Yang kita ajarkan, ketika menggabungkan obat, harus paham betul kondisinya seperti apa: darurat? Tidak ada sediaan obat yang ada di lapangan? Itu bisa dilakukan untuk keadaan khusus.

Mereka belajar meracik obat dari dokter-dokter senior?
Betul sekali. Celakanya itu, dalam proses pendidikan kan harus melalui magang di rumah sakit. Selama seniornya mempraktekkan meracik obat, dia merasa diajari yang benar. Maka kemudian mengikuti seniornya. Memang harus pelan-pelan (untuk menghilangkannya). Sekarang kita ikhlaskan kalau sekarang ini masih ada generasi yang meresepkan puyer. Tapi ingat, tidak semua puyer itu salah. Bayangkan Anda di Papua atau di daerah pedalaman yang ketersediaan obatnya sulit, puyer masih menjadi pilihan yang baik. Inilah yang kita bekalkan kepada mahasiswa, bukan mengajarkan tentang mencampur obat. Pada saat dalam kondisi sulit, apa yang bisa dilakukan. Inilah yang kita ajarkan.

Iwan Dwiprahasto
Lahir        : Surabaya, 8 April 1962
Status     : Menikah (istri Adi Utarini, dengan seorang putri)
Pekerjaan: Guru besar ilmu farmakologi pada Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Pendidikan:
Fakultas Kedokteran UGM (1987)
(Pharmacoepidemiology), Newcastle University, New South Wales, Australia (1992)
London School of Hygiene & Tropical Medicine, Inggris (2001)

Karier:
- Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Farmakologi Indonesia (2006-sekarang)
- Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FK UGM (2004-2008)
- Ketua, Komite Pendidikan, Penelitian, dan Pengembangan RSUP Dr Sardjito Yogyakarta (2004-2007)
-  Board of Governor, International Clinical Epidemiology Network (2000-2007)

Sumber : Tempo

March 2, 2009 Posted by | Artikel | Leave a comment

Bagaimana Puyer Di Negara Lain…???

Sedikit untuk Anda yang membutuhkan informasi Puyer di negara lain dalam bentuk Testimoni.

1.

—– Original Message —–

From: “Dayce Sjaflan” <zidsja@xxxxxxxx>
Sent: Wednesday, February 18, 2009 6:44 AM
Subject: [sehat] Re: dari Kompas : Puyer (Tetap) Bisa Dikonsumsi

Dear smart parents,

Salam kenal.

Saya Dayce Sjaflan (32 thn, ibu dari Kendra,baby girl usia 22 bulan),
member baru di milis sehat ini.Saat ini saya sedang melanjutkan studi
master di Leeds, United Kingdom. Mau share pengalaman saja, related
dengan pertanyaan mas Candra Suparto: Di UK particularly di Leeds
tempat saya tinggal (yg saya tau pasti)puyer tidak pernah diresepkan
oleh dokter. Yang saya tau, dokter umum di sini (di sini biasa disebut
general practitioner/GP) sangat hati2 dalam meresepkan obat,
memberikan imunisasi, dst.
Contohnya, kalo anak batuk pilek, sudah pasti akan diberikan advice
banyak2 makan buah, minum, makan dan istirahat =), dan sudah pasti
tidak dapat obat.hehe. Kalau ada keluhan demam, baru dikasi
paracetamol syrup (enaknya di sini student dan family kalo ke GP
gratis demikian jg obat2annya).

Contoh lain kehati2an mereka, waktu saya minta vaksin flu untuk anak
saya (soalnya saya baru bawa anak saya ke sini bulan Januari kemarin,
dan di Jakarta ama DSAnya di sarankan vaksin flu sebelum berangkat dan
vaksin flu boosternya di suruh minta di Leeds dlm tempo sebulan
setelah vaksin di Jakarta), eh request minta vaksin flu ditolak karena
katanya vaksin flu diberikan kalo anak ada penyakit asma, diabetes,
alergi serius dan satu lagi saya lupa, pokoknya penyakit2 yg apabila
ditrigger oleh flu bisa tambah parah..kalau tidak ada kecenderungan ke
arah penyakit2 tersebut, ya hanya disuruh pertahankan imunitas tubuh
secara alami saja.

Jadi sekilas observasi saya, tampaknya di negara2 maju, para ahli
medis sangat hati2 dalam memberikan advice medis mungkin terkait juga
dgn threat of a law suit karena di sini konsumen sangat sadar akan
their right to receive proper treatment (in any area, not just
medical). Dan tidak hanya GP yang berperan serta dalam memberikan
advis kesehatan buat konsumen, ahli farmasi juga demikian lho.
Contoh
waktu saya mo ambil obat alergi untuk anak saya ke apotik, begitu saya
dapat obatnya, ahli farmasinya bilang gini sama saya ‘I disagree with
your GP who prescribed three times a day and in that amount per intake
for this medicine. It’s not advisable as this is a highly strong med.
I revised it to two times a day only’. Ya saya sih nurut2 aja, secara
dia apoteker ya, tau persis bahan kimianya, lagian itu obat sebenarnya
tidak akan saya kasi juga ke anak sih kalo belum perlu2 amat (selama
alerginya masih bisa ditangani tanpa oral med).

Anyways, sekian dulu sharingnya. Maaf kepanjangan, tapi sebagai member
baru semangat juga membaca komentar2 orang2 se-visi dalam masalah
kesehatan.

Cheers
Dayce Sjaflan
(Ibunya Kendra Medina M)

2.

—– Original Message —–

From: “ariwul rodman” <bundatryda.sehat@xxxxxxx>
Sent: Saturday, February 21, 2009 2:54 AM
Subject: Re: [sehat] Re: Eh di luar negeri bikin puyer lho!

Dear Sps, Bapak dan Ibu dokter,

Kalau berdasarkan pengalaman anak kena common cold di Ohio, tidak pernah
dapat obat apapun apalagi ditemui dokter, disuruh tunggu sampai kalau bener
common coldnya tidak membaik disertai demam tinggi 3 hari lebih, baru boleh
ketemu dokter. Paling ketemu dokter juga hanya untuk dipastikan tidak ada
penyakit lainnya dan hanya diminta memberikan obat penurun panas kalau
demamnya tinggi. Kalau kena infeksi strep throat (dengan uji usap
tenggorokan dulu, atau kena UTI), hanya diberi antibiotik saja. Belum pernah
ketemu dokter memberikan berbagai macam obat ataupun dalam bentuk racikan
puyer seperti sewaktu saya kecil dulu di Jakarta (jaman kiplik he..he..) dan
ternyata masih dipraktekkan sampai sekarang.
Anak allergy,  sarannya hindari allergy,  kalau hidung sampai mampet berikan
saline solution dan humidifier. Jadi selama ini anak-anak saya di sini bisa
dibilang sangat-sangat jarang terima resep dari dokter, mudah-mudahan sehat
terus, soale si sulung allergy hampir semua jenis antibiotik. Kalaupun
terima resep dokter isinya biasanya hanya satu macam dan obat generik
umumnya.

Memang ada praktek coumpounding drug di US, tetapi fda juga memberikan
peringatan untuk penggunanya. Silahkan membuka link dibawah ini untuk
praktek compounding drug di US.

1-The Special Risk of Pharmacy Coumpounding
www.fda.gov/consumer/updates/compounding053107.html
2-Apotik tempat kami membeli obat
www.walgreens.com/library/ask/aap/drugsinformation/druginfodirection_compounding.html,
buka link drug information.
3- www.fda.gov/consumer/updates/otc_creams040108.html, untuk obat cream
kuli/salep
4- www.fda.gov/fdac/features/2000/400_compound.html Pharmacy coumpounding
Customizing Prescription Drugs,  buka juga lampirannya.

Semoga berguna dan linknya dapat dibuka, maaf tidak bisa melampirkan karena
gaptek.

Salam sehat,
Dwi Rodman

3.

—– Original Message —–

From: “B.H. Jo” <bhjo@xxxxxxxx>
To: “Mailing List Dokter Indonesia” <dokter@itb.ac.id>
Sent: Friday, February 20, 2009 12:55 AM
Subject: Re: [MLDI] Fw: Re: Tahukah Anda Akan Bahayanya Obat Puyer

Harap hemat bandwith
———————-
Saya tidak mengikuti diskusi ttg. Obat Puyer ini, yg. rupanya sangat intensif.

Saya “tidak pernah” diajari ttg. obat puyer waktu saya belajar di FK/Medical School di Jerman, tahun 1970 puluhan. Selain itu, seingat saya, saya belum pernah melihat obat puyer di Jerman, Kanada dan AS apalagi membuat resep obat puyer.

BH Jo

4.

—– Original Message —–

From: “E. Wahyuningtiyas” <tiyas@xxxxxxxx>
Sent: Wednesday, February 18, 2009 3:19 PM
Subject: [sehat] Re:Polemik puyer dari milis lain

Dear all….

ini ada 2 reply dari temen2 yang notabene lagi tinggal di LN….
ada yg di jerman, di aussie… aku coba survey via fb hehehehe dan ternyata emang kayaknya indo duank ya yang pake puyer…
maaf replynya baru 2 yang bisa di posting…. smoga meskipun 2 udah bisa memberi dukungan untuk SAYUR.. :)

Say NO to PUYER ya….
salam,
tyas

from Sofia-German:
“Alhamdulillah selama disini, aku & Mas Arie belum pernah ke dokter untuk batuk, pilek  & diare. Di Indo pun klo cuma batuk pilek, tanpa demam, kami ga ke dokter. Kalo Giras, selama disini dah 3 kali ke dokter karena batuk pilek. Alhamdulillah, ga pernah diare. Kalo batuk pilek tanpa demam, dokternya cuma bilang ‘better take her home, she just need some rest. pay attention on her meal’. Gak pernah dikasih obat. Biasanya dokternya juga nanya, apakah dia bisa tidur nyenyak pas malam. Kalo gak bisa, dikasih obat tetes hidung, cuma buat melegakan pernapasan, biar dia bisa istirahat optimal. Pernah juga dikasih sirup obat batuk, karena dia demam diatas 38,5°C. Trus, kalo dibandingin sama obat yang dkasih SPAnya Giras di Indo(puyer, racikan), kayaknya obat dari dokter sini teh lamaa banget sembuhnya. Biasanya di Indo, dikasih obat 2 hari, sembuh. Disini, seminggu baru sembuh. Tapi emang keliatan step step pengurangan batuknya. Jadi rada curiga juga sih sama dosis obat yang dikasih ama SPAnya di Indo. Kalo kata dokter sini sih ‘you dont need medicine to against virus flu, let her body do that. and cough is some kind of body’s mechanism, it’s natural, let you know that there’s an alien inside your body. in child, you cant stop it immediately, wont be good for their body. just reduce it, step by step’. Gitu deh Mbak.. Kepanjangan ya.. Maaf.. Sekalian nulis.. Salam buat Zahra ya..”

from: Iis P-Aussie
“Ke dr sering lah, namanya jg ada anak2. Kl ty nama obatnya ya lupa krn mcm2. Tp gak pernah kok dikasìh puyer. Selalu dlm btl kalo cair, atau tube utk krem. Blm pernah dikasih yg multiple ingredient jg. Dokternya pelit obat”

6. Puyer Tidak Banyak Dikenal di Malaysia

Obat racikan atau Puyer ternyata tidak banyak dikenal oleh kalangan medis di
Malaysia. Para dokter dan ahli farmasi di Malaysia selalu meresepkan obat
jadi dari pabrik dengan alasan keamanan.

http://www.mediafire.com/file/weymzjj5mhc/puyer tidak banyak dikenal di
malaysia.wmv

atau

http://www.mediafire.com/?weymzjj5mhc

February 21, 2009 Posted by | Artikel | 2 Comments

SUMPAH DOKTER INDONESIA

SUMPAH DOKTER INDONESIA (diikrarkan oleh setiap dokter saat kami diangkat menjadi dokter, sumpah yang sungguh mulia dan suci)

Demi Allah, saya bersumpah bahwa:
Saya akan MEMBAKTIKAN HIDUP SAYA guna KEPENTINGAN KEMANUSIAAN; Saya akan memberikan kepada guru-guru saya penghormatan dan pernyataan terima kasih yang selayaknya;
Saya akan MENJALANKAN TUGAS SAYA dengan CARA YANG BERHORMAT dan BERMORAL TINGGI, sesuai dengan martabat pekerjaan saya; KESEHATAN PENDERITA SENANTIASA AKAN SAYA UTAMAKAN; Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerjaan saya dan karena keilmuan saya sebagai dokter; Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga MARTABAT dan TRADISI LUHUR jabatan kedokteran; Saya akan memperlakukan teman sejawat saya sebagai mana saya sendiri ingin diperlakukan (harusnya sih kalo tersesat, diingatkan yah bukan tambah
disesatkan); Dalam MENUNAIKAN KEWAJIBAN terhadap penderita, saya akan BERIKHTIAR dengan SUNGGUH-SUNGGUH supaya saya tidak terpengaruh oleh PERTIMBANGAN KEAGAMAAN,
KEBANGSAAN, KESUKUAN, POLITIK KEPARTAIAN atau KEDUDUKAN SOSIAL; Saya akan menghormati setiap hidup insani dari saat pembuahan; SEKALIPUN DIANCAM, SAYA TIDAK AKAN MEMPERGUNAKAN PENGETAHUAN KEDOKTERAN SAYA
UNTUK SESUATU YANG BERTENTANGAN DENGAN HUKUM KEMANUSIAAN; SAYA IKRARKAN SUMPAH INI DENGAN SUNGGUH-SUNGGUH DAN DENGAN MEMPERTARUHKAN
KEHORMATAN DIRI SAYA.

Berbahagialah teman-teman yang tidak mengucapkan sumpah tersebut di atas waktu angkat sumpah karena ga akan ditagih nanti saat menghadap yang kuasa.

Ampunilah hambamu ini ya Tuhan, karena mungkin saat kami melakukan praktek sebagai dokter kami terlena memikirkan keuntungan yang akan kami peroleh alih-alih memikirkan kepentingan pasien kami.

Berikanlah kami kekuatan agar kami mampu berusaha keras untuk memenuhi sumpah tersebut dalam keseharian kami berpraktek sebagai dokter.

Berikanlah kami kekuatan untuk membuang jauh-jauh pikiran mengutamakan kepentingan kami sebagai dokter di atas kepentingan pasien-pasien kami.

Berikanlah kami kekuatan untuk menerima kritikan, masukkan atau peringatan dari orang lain dan menerima bahwa kami hanyalah manusia biasan dan bukanlah dewa yang tahu segalanya (ENGKAUlah sumber segala pengetahuan di dunia ini)

Ingatkanlah kami selalu setiap kali kami mulai menyimpang dari sumpah kami
yang suci ini.

Amin.

salam SEHAT

dr. Yoga Pranata (Yayasan Orang Tua Peduli)
www.sehatgroup.web.id

February 20, 2009 Posted by | Artikel | Leave a comment

Praktik peresepan yang baik

Prof. DR.dr. Rianto Setiabudy

Bagian Farmakologi FKUI

Pendahuluan

Kemampuan memilih dan menggunakan obat yang baik merupakan standar yang penting sekali dalam profesi dokter. Penggunaan obat yang tidak rasional menghasikan pengobatan yang tidak efektif, tidak aman, eksaserbasi penyakit, perpanjangan masa sakit, penderitaan bagi pasien, peningkatan biaya pengobatan, dan merusak lingkungan (misalnya berkembangnya resistensi terhadap antibiotika).

Cara peresepan yang tidak rasional

Membuat resep bagi pasien sepintas tampak mudah dikerjakan. Dokter melakukan anamnesis, memeriksa fisik, dan bila perlu melakukan pemeriksaan penunjang. Lalu, yang lazim terjadi ialah, berbagai obat lalu dituliskan di resep sesuai dengan jumlah keluhan yang ada. Makin banyak keluhan pasien makin beragam pula obatnya. Bila ada beberapa diagnosis kerja, sering dipilihkan berbagai obat yang mencakup semua kemungkinan yang ada. Obat-obat yang baru, mahal, dan mempunyai selling point cenderung dipilih karena diyakini mempuyai efikasi yang lebih baik. Berbagai obat sering yang punya indikasi yang sama sering dikombinasikan karena diyakini dapat mempercepat penyembuhan sakitnya pasien. Banyak kombinasi obat ini yang unik dan diperoleh dengan meniru resep senior yang punya pasien banyak. Konsep campur-mencampur obat untuk menghasilkan efek terapi yang bagus ini dikenal dengan ungkapan ”medicine is an art”. Inilah kenyataan gambaran yang sering terlihat dalam praktek. Sebagian pasien merasa senang dengan mendapat resep yang mahal karena percaya bahwa ”ada harga ada barang” artinya kalau obatnya mahal pasti efikasinya baik. Namun sebagian pasien juga ketakutan melihat jumlah obat yang demikian banyaknya dan demikian mahalnya. Sebagian pasien yang kritis juga mulai mencari informasi melalui internet untuk mencocokkan indikasi, efek samping, dosis, dsb. untuk mengetahui apakah mereka mendapat obat yang tepat.

Cara peresepan seperti yang digambarkan di atas memang mudah dikerjakan tetapi jauh dari rasional. Peresepan yang rasional menuntut pengetahuan dan pertimbangan yang jauh lebih mendalam dari seorang dokter. Semua ini berujung pada upaya untuk meningkatkan keselamatan dan kesejahteraan pasien.

Faktor penentu peresepan yang baik

Ada 3 faktor yang berperan besar dalam mempraktikkan peresepan yang baik. Yang pertama ialah kemampuan dokter untuk menilai manfaat-risiko dalam memilih obat bagi pasiennya. Kedua ialah kemampuan untuk memberikan layanan medik yang berbasis bukti (evidence-based medicine, EMB). Ketiga ialah kemampuan untuk secara sistematik memilih dan menggunaan obat secara rasional.

Menilai manfaat-risiko

Kemampuan untuk menilai manfaat-risiko tergantung dari 5 faktor yaitu beratnya penyakit yang akan diobati, efikasi dari obat yang akan digunakan, berat dan seringnya efek samping dari obat yang akan digunakan, keamanan dari obat lain yang bisa digunakan untuk indikasi yang sama, dan efikasi dari obat pilihan lain itu.

Evidence-based Medicine (EBM)

EBM adalah penerapan kebijakan penatalaksanaan penyakit oleh dokter pada seorang pasien yang dilakukan secara hati-hati dan bijak berdasarkan pada bukti ilmiah terkini. Di dalam EBM terkandung pengertian mengenai tingkat kualitas bukti ilmiah (qualification of evidence), tingkat rekomendasi (categories of recommendations), pengukuran statistik, dan kualitas laporan uji klinik. Sulit diharapkan seorang dokter yang tidak memahami EBM akan dapat menerapkan praktik peresepan yang rasional. Sebagai contoh bila ia diberikan informasi bahwa secara in vitro terbukti bahwa ATP dapat mempercepat gerak sperma, maka mungkin tidak sulit meyakinkan dia bahwa seorang pria yang motilitas spermanya kurang baik perlu diberi resep ATP agar bisa cepat punya anak. Demikian pula karena telah diketahui orang bahwa vitamin E mempunyai efek antioksidan, tidak sulit kiranya meyakinkan dia bahwa vitamin ini sangat perlu diresepkan untuk berbagai indikasi klinik di mana terjadi reaksi inflamasi dan pembentukan radikal bebas.

Langkah-langkah peresepan yang baik

Dalam buku Guide to Good Prescribing yang diterbitkan oleh WHO, diuraikan bahwa peresepan yang baik harus dikerjakan dalam urutan beberapa langkah sbb.:

  1. Menentukan apa masalah yang dijumpai pada seorang pasien
  2. Menentukan apa tujuan terapi yang hendak dicapai pada pasien itu
  3. Membuat daftar obat apa saja yang potencial dapat digunakan untuk mencapai tujuan terapi tersebut
  4. Memilih obat terbaik untuk mencapai tujuan terapi tersebut dengan mempertimbangkan efikasi, keamanan, kesesuaian (suitability) untuk pasien yang bersangkutan, biaya, dan ketersediaan obat tersebut. Untuk dapat mempertimbangkan faktor-faktor ini dengan baik digunakan suatu sistem skor
  5. Meresepkan obat tersebut
  6. Memberikan informasi, instruksi, dan peringatan bagi pasien
  7. Memantau hasil pengobatan dan bila perlu memodifikasi atau menghentikannya

Dalam mempertimbangkan faktor keamanan dan kesesuaian pilihan obat bagi pasien individual, harus diperhatikan ada kelompok pasien tertentu yang memerlukan perhatian khusus. Mereka adalah kelompok anak/bayi, usia lanjut, pasien dengan kelainan farmakogenetik, gangguan fungsi ginjal dan/atau hati, wanita hamil atau menyusui, pasien dengan kerentanan terhadap risiko interaksi obat, dan pasien dengan riwayat hipersensitivitas.

________

Bacaan selanjutnya:

1. Grahame-Smith DG, Aronson JK. Principles of prescribing. In: Clinical Pharmacology and drug therapy. 3rd ed, Oxford University Press, 2002: 173-80

2. Sackett DL, Straus SE, Richardson WS, Rosenberg W, Haynes RB. Evidence-based Medicine. Edinburgh: Churchill Livingstone, 2000

3. Dawes M. Is this therapy effective? In: Dawes M, Davies PT, Gray AM, Mant J, Seers K, Snowball R, eds. Evidence-based Practice. Edinburgh: Churchill Livingstone, 1999: 159-80.

4. Nierenberg DW, Melmon KL. Introduction to Clinical Pharmacology and Rational Therapeutics. In: Carruthers SG, Hoffman BB, Melmon KL, Nierenberg DW. 4th ed. Melmon and Morelli’s Clinical Pharmacology

5. Brunton LL, Lazo JS, Parker KL. The Pharmacological Basis of Therapeutics. 11th ed,NY: McGraw-Hill, 2006

6. Lofholm PW, Katzung B. Rational prescribing & Prescription Writing. In: Katzung B, ed. Basic and Clinical Pharmacology. Boston:McGraw-Hill, 2007:1063-72

7. World Health Organization – Action Programme on Essential Drugs. Guide to Good Prescribing, Geneva, 1994


* dipresentasikan pada Seminar “Meet the Expert: Compounding, Quo vadis?”, FKUI, Jakarta 3 Mei, 2008

February 19, 2009 Posted by | Artikel | Leave a comment

Menggugat Penyalahgunaan Obat-obatan

Oleh: Warastuti

Aldi Deswanto (26 tahun) paham benar. Di setiap malam Ahad, pemuda tanggung itu pasti bertandang ke apoteknya. Keluhannya pun sama: batuk.Obat yang diminta juga khas: Dekstrometorfan Hbr. Obat ini berfungsi meredakan batuk kering yang cara kerjanya menekan batuk dari saraf.

Yang membuat Aldi heran, pemuda itu selalu menolak ketika ditawarkan obat batuk cair lain yang mengandung pula dekstrometorfan. ”Dia keukeuh, maunya yang tablet,” jelas Aldi.Tapi, Aldi bukan medioker yang naif. Dia mencium keanehan pada penampilan pemuda itu. Dugaan kuatnya, si pemuda hobi mabuk. Dan memang, dekstrometorfan mempunyai efek samping mengantuk. Sebagai apoteker, Aldi tahu benar Dekstrometorfan Hbr sering menjadi menu pelezat pesta mabuk-mabukan atau narkoba. Dengan alasan kuat, akhirnya Aldi menolak permintaan si pemuda dengan halus.

Selain Dekstrometorfan, Aldi juga pernah menerima resep tablet Diazepam 30 butir. Diazepam adalah nama zat aktif yang lazim terkandung dalam obat penenang atau sedatif. Obat ini biasanya bekerja di sistem saraf pusat. Dalam penggunaannya Diazepam berpotensi menimbulkan efek ketergantungan. Menengarai adanya kejanggalan dari nama dokter dan nomor telepon dokter pemberi resep yang tidak jelas, akhirnya Aldi pun menolak resep tersebut.

Kali lain, Aldi bercerita, datang seorang ibu yang hendak membeli pil KB. Tapi, tidak mengerti bagaimana cara mengonsumsinya. Selama ini, si ibu itu berpikir pil KB dapat diminum semaunya saja. Apoteknya, jelas Aldi kepada ibu itu, memilih tidak menjual obat-obat yang mungkin menciptakan ambiguitas kegunaan. Di lain kesempatan, Aldi terpaksa menolak seseorang yang hendak membeli obat mag yang mengandung zat aktif misoprostol.

Siapa yang menyangka ada bahaya mengancam di balik obat mag? Misoprostol, senyawa yang digunakan untuk menstimulasi sekresi lendir di lambung, ternyata sering disalahgunakan sebagai obat penggugur kandungan. Kerjanya dalam meningkatkan kontraksi atau regangan otot berefek fatal bagi janin. Singkat cerita, dengan sifat tersebut, misoprostol justru dimanfaatkan untuk mengeluarkan janin yang tak dikehendaki dari rahim.

Ironisnya, obat dengan kandungan misoprostol dapat diperoleh mudah di pasaran. Harganya juga relatif murah. Tak salah membelinya secara bebas, karena memang obat mag ini tidak tergolong obat keras. Belakangan, masyarakat juga diributkan oleh racikan puyer. Berbagai blog dan mailing list ramai membahasnya. Padahal, praktik puyer bukan hal baru dalam keseharian. Kali ini masyarakat disadarkan akan akibat fatal peracikan obat tanpa standar yang benar.

Penelitian yang dilakukan oleh Yayasan Orangtua Peduli (YOP) menemukan tingkat peresepan puyer yang begitu tinggi bagi anak-anak. Tercatat tingkat peresepan puyer mencapai 55,4 persen pada diare akut; 72,6 persen pada demam; 77,4 persen pada ISPA atau infeksi saluran pernapasan atas; dan 87 persen pada batuk. Yang lebih mencengangkan ialah tingkat peresepan antibiotik dan steroid yang begitu tinggi diberikan kepada anak-anak. Padahal, bagi anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan, obat-obatan ini berefek luas pada hormon dan organ vital, seperti hati dan ginjal.

Terlebih, harga obat-obatan ini relatif mahal. Tak heran penelitian yang sama mencatat biaya pengobatan pediatris yang tinggi. Semua obat ditumbuk jadi satu. Itulah prinsip sederhana racikan puyer. ”Toh akhirnya masuk ke perut juga. Justru lebih praktis,” begitu pikir logika awam sebagian masyarakat kita. Namun, masalahnya tak sesederhana aksioma 1+1= 2. Linearitas tak selalu berlaku dalam ilmu obat-obatan.

Sekilas, obat-obatan memang tampak sama. Serbuk, tablet, pil, dengan warna dominan putih, rasa hambar atau terkadang pahit.Tak mudah memang memahami bahwa beberapa obat dapat mengakibatkan kematian dalam jumlah hanya sepersekian miligram. Tak mudah menyampaikan kepada publik bahwa obat juga dapat menjadi racun dalam kondisi yang tak disyaratkan.

Peran apoteker
Mencermati kasus penyalahgunaan obat yang marak terjadi, publik layak menggugat para praktisi kesehatan profesional. Lebih jauh lagi, peran apoteker sebagai profesi dengan cakupan keahlian obat-obatan pun boleh dipertanyakan. Aldi adalah salah satu apoteker muda idealis yang bertekad berjuang melalui profesinya. Tak cuma ingin mencetak angka penjualan obat yang tinggi, dia juga berkomitmen memberikan edukasi dan panduan obat kepada masyarakat.

Ketua Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI) Jawa Barat, Kusmeni S Hartadi, memaparkan, profesi apoteker seharusnya berdiri sama tegak dengan profesi kesehatan lain. ”Obat adalah privilege apoteker,” tegas Kusmeni dalam percakapan dengan Republika akhir pekan lalu. Pada kenyataannya, profesi ini kian tenggelam oleh ingar-bingar bisnis dan tarik-menarik kepentingan. Kusmeni menuturkan peyorasi peran apoteker di negeri ini sudah berlangsung sejak lama.

Menyikapi gejala tersebut, sejak 2006 ISFI mulai melakukan apa yang disebut pemurnian profesi. Program ini terutama ditujukan bagi para apoteker yang berkiprah di farmasi komunitas atau apotek. Kusmeni menegaskan persoalan obat dari hulu ke hilir harus berada di bawah kendali pihak yang kompeten, yakni apoteker. Seorang pejabat dinas kesehatan yang enggan disebutkan namanya menyayangkan anggaran yang minim dalam pengawasan obat-obatan. Dia juga mengeluhkan kelumpuhan peran apoteker dalam dunia kesehatan di Indonesia.

”Sepertinya para apoteker sekarang perlu diasah kemampuan komunikasi dan politiknya,” ujarnya, kesal. Senada dengan pernyataan tersebut, Kusmeni mengungkapkan, setiap profesional kesehatan harus mengerti benar ranah perannya. Tujuannya, bias dan kekacauan dalam layanan kesehatan, seperti juga dalam peredaran obat-obatan, dapat dicegah.

Berdasarkan data di tahun 2003, Kusmeni menyebut jumlah apoteker di Indonesia berkisar 8.000 orang, dengan angka pertumbuhan kurang lebih empat persen per tahun. Dalam konsep pemerataan layanan kesehatan, menurut Kusmeni, jumlah apoteker di Indonesia masih sangat kurang. Di negara-negara mapan, seperti Jepang, rasio apoteker dengan jumlah penduduk adalah 1: 2.000 jiwa. Sementara di Indonesia, dengan jumlah penduduk 230 juta jiwa lebih, jumlah tenaga apoteker yang dimiliki baru berkisar 25 ribu orang.

Sumber : Republika

February 19, 2009 Posted by | Artikel | Leave a comment

Pengukuhan Prof Iwan Dwiprahasto: Tradisi Menulis Resep Obat Perlu Dikoreksi

Kurangnya informasi terhadap bukti ilmiah baru tentang obat dan farmakoterapi tampaknya tetap menghantui kalangan professional kesehatan di negara-negara berkembang, seperti Indonesia. Meskipun hampir semua jurnal biomedik dan buku-buku teks kedokteran telah tersedia dalam bentuk elektronik dan dengan mudah diakses melalui internet, namun kendala biaya, bahasa, perangkat komputer fasilitas akses internet tampaknya belum akan teratasi hingga 10-15 tahun ke depan. Bahkan tenaga kesehatan di daerah-daerah terpencil dikhawatirkan semakin jauh dari konsep-konsep farmakoterapi berbasis bukti yang mutakhir.

Ironisnya, kelemahan inilah yang dimanfaatkan duta-duta farmasi sebagai peluang dan secara gencar membanjiri para dokter dengan informasi-informasi tentang obat mereka. Sayang, informasi ini umumnya unbalanced, cenderung misleading atau dilebih-lebihkan, dan berpihak pada kepentingan komersial.

“Penggunaan informasi seperti ini jika ditelan begitu saja akan sangat beresiko dalam proses terapi,” ungkap Prof dr Iwan Dwiprahasto MMedSc PhD, Senin (7/1) di ruang Balai Senat UGM.

Wakil Dekan Bidang Akademik & Kemahasiswaan FK UGM menyampaikan hal itu saat dikukuhkan sebagai Guru Besar FK UGM. Ketua Komite Pendidikan, Penelitian dan Pengembangan RSUP Dr Sardjito ini, mengucap pidato “Farmakoterapi Berbasis Bukti: Antara Teori dan Kenyataan”.

Diungkapkannya, keterbatasan informasi ini menjadikan off-label use of drug sangat marak dalam praktek sehari-hari. Off-label use adalah penggunaan obat di luar indikasi yang direkomendasikan. Obat yang sering digunakan secara off label antara lain antihistamin, antikonvulsan, antibiotika, serta obat flu dan batuk.

“Berbagai obat kardiovaskuler pun tergolong sangat sering digunakan secara off label, antara lain antiangina, antiaritmia, dan antikoagulan. Gabapentin yang hanya diindikasikan untuk adjunctive therapy pada partial seizures dan untuk postherpetic neuralgia ternyata telah digunakan secara off label untuk kondisi lainnya, termasuk diantaranya monoterapi pada epilepsy, restless leg syndrome, bipolar disorder, migraine, dan kejang karena putus alkohol,” ujar Iwan Dwiprahasto.

Suami dr Adi Utarini MSc MPH PhD, ayah Putri Karina Larasati lebih lanjut menerangkan berbagai penggunaan obat di luar dosis yang direkomendasikan, termasuk pula dalam katagori ini. Banyak praktek-praktek kefarmasian di apotek tergolong off label use.

“Menggeruskan tablet untuk dijadikan puyer, kapsul, bahkan sirup untuk sediaan anak, atau menggeruskan tablet atau kaplet untuk dijadikan saleb dank rim adalah bentuk off label use yang jamak ditemukan. Hal itu telah telah terjadi secara turun menurun, berlangsung selama puluhan tahun tanpa ada yang sanggup menghentikannya,” terang pria kelahiran Surabaya, 8 April 1962 ini.

Kata Prof Iwan, melestarikan penyimpangan, menikmati kekeliruan, dan mengulang-ulang kesalahan tampaknya sudah menjadi hedonisme peresepan. “Yang satu mengajarkan dan yang lain mengamini sambil menirukan. Itulah cara termudah untuk mendiseminasikan informasi yang tidak berbasis bukti,” kata Ketua Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKPRS) Perhimpunan Rumah Sakit Indonesia (PERSI) ini.

Menulis resep, kata Prof Iwan, seolah telah menjadi tradisi ritual yang tidak bisa dikoreksi. Tulisan yang sulit dibaca seolah menjadi bagian dari sakralisasi peresepan.

“Padahal bahaya mengintai dimana-mana. Resep yang sulit dibaca akan membuat pembacanya (asisten apoteker dan apoteker) mencoba menduga, menebak, dan akhirnya memaksakan diri untuk menterjemahkan dalam bahasa sendiri yang berdampak fatal jika keliru,” tambahnya lagi.

Terlalu banyak nama obat mirip satu dengan yang lain, tetapi isinya sama sekali berbeda. Losec® yang berisi omerprazole (untuk gangguan lambung) sering keliru dibaca sebagai sebagai Lasix® yang berisi furosemida (diuretika). Feldene® yang merupakan suatu AINS sering keliru terbaca sebagai Seldane® yang berisi terfenadine (suatu antihistamin). Sotatic® yang berisi metoclopramide (obat antimuntah) sering keliru dibaca menjadi Cytotec® (berisi misoprostol) yang dapat menyebabkan terjadinya aborsi jika diberikan pada ibu hamil.

Oleh karena itu, menurut Prof Iwan Dwiprahasto kebiasaan keliru menuliskan aturan resep 3 kali sehari (signa 3 dd 1) seharusnya mulai ditinggalkan dan diganti menjadi diminum tiap 8 jam. Pun dengan obat yang diberikan 2 kali sehari, seharusnya bisa ditulis tiap 12 jam dan seterusnya.

“Menulis resep dalam bentuk campuran (beberapa jenis obat digerus dijadikan satu sediaan puyer atau sirup) perlu untuk segera dikoreksi, karena termasuk off label use. Jika praktek-praktek primitive semacam itu tetap dipertahankan, maka keselamatan pasien (patient safety) tentu akan jadi taruhannya,” tandasnya.

Di akhir pidatonya, Prof Iwan mengajak para professional kesehatan untuk senantiasa mengacu pada bukti-bukti ilmiah terkini. “Keeping up to date” bukanlah sekedar slogan tapi merupakan prasyarat fundamental dalam implementasi Evidence Based Medicine (EBM).

“Memang tidak semua hasil uji klinik obat dapat langsung diterima sebagai bukti ilmiah yang valid. Hasil uji klinik obat tetap harus ditelaah dengan kritis untuk mengetahui validitas metode dan hasilnya,” tukas Direktur Clinical Epidemiology & Biostatistics Unit (CE&BU) FK UGM/RSUP Dr Sardjito 2000-2006 ini. (Humas UGM).

Sumber : UGM

February 16, 2009 Posted by | Artikel | Leave a comment

OBAT RACIKAN PUYER DAN PERMASALAHANNYA

Prof. DR. dr. Rianto Setyabudi

Campuran berbagai obat yang diracik dan dijadikan “puyer” (obat bubuk) atau dimasukkan ke dalam kapsul atau sirup oleh petugas apotik lazim disebut compounding. Lima puluh tahun yang lalu pembuatan obat dengan cara racikan ini dikerjakan pada 60% resep dokter, namun di luar negeri resep racikan ini turun tinggal 1% sekarang. Di Indonesia, termasuk Siloam Gleneagles Hospital Lippo Karawaci (SGHLK) resep puyer untuk anak masih sering sekali dijumpai. Setiap hari rata-rata apotik SGHLK membuat 130 resep puyer untuk memenuhi
permintaan resep dokter.

Mengapa dokter sering meresepkan obat puyer?

Peresepan obat puyer untuk anak di Indonesia sangat sering dilakukan karena beberapa faktor yaitu:

1. Dosis obat dapat disesuaikan dengan berat badan anak secara lebih tepat.
2. Biayanya bisa ditekan menjadi lebih murah.
3. Obat yang diserahkan kepada pasien hanya satu macam, walaupun mengandung banyak komponen.

Apa masalah yang ditimbulkan pembuatan obat racikan bentuk puyer?

Dewasa ini peresepan obat puyer di negara maju sudah sangat berkurang karena:

1. Kemungkinan kesalahan manusia dalam pembuatan obat racik puyer ini tidak dapat diabaikan, misalnya kesalahan menimbang obat, atau membagi puyer dalam porsi2 yang tidak sama besar. Kontrol kualitas sulit sekali dapat dilaksanakan untuk membuat obat racikan ini.

2. Stabilitas obat tertentu dapat menurun bila bentuk aslinya digerus, misalnya bentuk tablet salut selaput (film coated), tablet salut selaput (enteric coated), atau obat yang tidak stabil (misalnya asam klavulanat) dan obat yang higroskopis (misalnya preparat yang mengandung enzim pencernaan)

3. Toksisitas obat dapat meningkat, misalnya preparat lepas lambat bila digerus akan kehilangan sifat lepas lambatnya.

4. Waktu penyediaan obat lebih lama. Rata2 diperlukan waktu 10 menit untuk membuat satu resep racikan puyer, 20 menit untuk racikan kapsul, sedangkan untuk mengambil obat jadi diperlukan waktu hanya kurang dari 1 menit. Kelambatan ini berpengaruh terhadap tingkat kepuasan pasien terhadap layanan di SGHLK.

5. Efektivitas obat dapat berkurang karena sebagian obat akan menempel pada blender/mortir dan kertas pembungkus. Hal ini terutama terjadi pada obat-obat yang dibutuhkan dalam jumlah kecil, misalnya puyer yang mengandung klopromazin

6. Pembuatan obat puyer menyebabkan pencemaran lingkungan yang kronis di bagian  farmasi akibat bubuk obat yang beterbangan ke sekitarnya. Hal ini dapat merusak kesehatan petugas setempat

7. Obat racikan puyer tidak dapat dibuat dengan tingkat higienis yang tinggi sebagaimana halnya obat yang dibuat pabrik karena kontaminasi yang tak terhindarkan pada waktu pembuatannya

8. Pembuatan obat racikan puyer membutuhkan biaya lebih mahal karena menggunakan jam kerja tenaga di bagian farmasi sehingga asumsi bahwa harganya akan lebih murah belum tentu tercapai

9. Dokter yang menulis resep sering kurang mengetahui adanya obat sulit dibuat puyer (difficult-to compound drugs) misalnya preparat enzim

10. Peresepan obat racik puyer meningkatkan kecenderungan penggunaan obat irasional karena penggunaan obat polifarmasi tidak mudah diketahui oleh pasien.

Bagaimana mengatasinya?

Dari uraian di atas terlihat bahwa peresepan racikan puyer membawa risiko untuk pasien dan berbagai dampak negatif lainnya. Sebagai rumah sakit yang bercita-cita mencapai standar internasional, khususnya dalam melindungi keselamatan pasien, maka di RSSG frekuensi penulisan resep dan pembuatan obat racikan ini perlu diupayakan untuk dihapus.

Komite Farmasi dan Terapi SGHLK menganjurkan agar penulisan resep obat racik puyer dan pembuatannya dibatasi hanya untuk kebutuhan obat yang tidak tersedia dalam bentuk formulasi untuk anak atau bila untuk sementara tidak tersedia di pasaran. Obat-obat untuk anak yang tersedia dalam bentuk obat sirup atau tetes misalnya amoksisilin, ibuprofen, parasetamol, teofilin, bromheksin, dll. seyogyanya tidak lagi diresepkan dalam bentuk racikan puyer.

Untuk membantu para dokter mengetahui obat apa saja untuk anak yang tersedia dalam bentuk formulasi pabrik, bagian farmasi akan menyediakan daftar obat2 tersebut kepada para dokter di SGHLK. Kelak diharapkan semua kebutuhan obat untuk anak dapat dipenuhi berdasarkan obat formulasi pabrik.

Layanan informasi ini disusun oleh Komite Farmasi dan Terapi
Siloam Gleneagles Hospital Lippo Karawaci.

February 16, 2009 Posted by | Artikel | Leave a comment

Video Polemik Puyer

Untuk Anda yang belum sempat melihat di RCTI Program Liputan Seputar Indonesia, Video Polemik Seputar Puyer bisa Anda lihat di :

http://video.okezone.com/play/2009/02/16/236/7460/idi-puyer-sebagai-opsi-obat-bagi-anak
http://video.okezone.com/play/2009/02/16/236/7459/puyer-untuk-anak-lebih-manjur
http://video.okezone.com/play/2009/02/16/236/7458/menkes-puyer-masih-bisa-digunakan
http://video.okezone.com/play/2009/02/15/236/7436/puyer-lebih-mahal-dari-obat-jadi
http://video.okezone.com/play/2009/02/14/236/7414/sisi-negatif-puyer-polifarmasi
http://video.okezone.com/play/2009/02/14/235/7402/tip-pengobatan-anak-obat-puyer
http://video.okezone.com/play/2009/02/13/236/7385/puyer-dikhawatirkan-tak-ikuti-standar-cpob
http://video.okezone.com/play/2009/02/13/237/7378/kenali-pola-pengobatan-rasional
http://video.okezone.com/play/2009/02/12/236/7350/puyer-lahir-dari-keterbatasan-obat-anak-anak
http://video.okezone.com/play/2009/02/12/236/7344/sisi-negatif-obat-puyer-tayangan-ulang
http://video.okezone.com/play/2009/02/12/235/7343/dokter-cawang-dibanjiri-pasien

Yang kesulitan mendownload bisa didownload disini :

Sisi Negatif Obat Puyer (9.51 MB)

Obat racikan atau puyer biasanya diberikan dokter untuk balita. Sementara,
sejumlah negara telah meninggalkan pola persiapan obat ini karena memiliki
sisi negatif.
http://www.mediafire.com/file/hd3xm1mlzmw/sisi negatif obat puyer.wmv

atau

http://www.mediafire.com/?hd3xm1mlzmw

Praktik Dokter Umum Dibanjiri Pasien (8.11 MB)

Praktik dokter umum di kawasan Cawang, Jakarta Timur, selalu dibanjiri
pasien. Anehnya, dokter di praktik ini memberikan obat tanpa memeriksa
kondisi pasien.

http://www.mediafire.com/file/zqcgmmzyymj/praktik dokter umum dibanjiri pasien.wmv

atau

http://www.mediafire.com/?zqcgmmzyymj

Puyer Lahir dari Keterbatasan Obat Anak-Anak (7.7 MB)

Ratusan tahun lalu, puyer lahir dari keterbatan obat, khususnya untuk
anak-anak. Sementara anak butuh takaran obat lebih kecil, maka obat orang
dewasa digerus dan dibagi-bagi sesuai berat badan anak.

http://www.mediafire.com/file/iyzjymxwhnz/puyer lahir dari keterbatasan obat anak anak.wmv

atau

http://www.mediafire.com/?iyzjymxwhnz

Kenali Pola Pengobatan Rasional (3.13 MB)

Ada tujuh tip sederhana mengenali pola pengobatan rasional, diantaranya
kenali dan pelajari penyakit anak serta jangan panik dan terburu-buru
membawa anak ke dokter.
http://www.mediafire.com/file/mfwzdvm5ueg/kenali pengobatan rasional.wmv

atau

http://www.mediafire.com/?mfwzdvm5ueg

Puyer Dikhawatirkan Tak Ikuti Standar CPOB (10.33 MB)

Kalangan industri farmasi mengkhawatirkan puyer tidak mengikuti standar cara
pembuatan obat yang Baik (CPOB). Sementara, pemerintah mengaku melakukan
pengawasan rutin.

http://www.mediafire.com/file/o01jvqmydch/puyer dikhawatirkan tdk ikut standar cpob.wmv

atau

http://www.mediafire.com/?o01jvqmydch
Tip Pengobatan Anak (Obat Puyer) (4.93 MB)

Berita mengenai obat puyer membuat bingung masyarakat. Untuk menghindari
kebingungan, ada baiknya bagi orangtua mengetahui tip pengobatan si kecil
jika jatuh sakit.

http://www.mediafire.com/file/omclxtbjyem/tip pengobatan anak.wmv

atau

http://www.mediafire.com/?omclxtbjyem

Sisi Negatif Puyer (Polifarmasi) (6.71 MB)

Puyer masih menjadi perdebatan. Namun, di dalam puyer terdapat praktik yang
dinamakan polifarmasi atau mencampur obat lebih dari dua jenis.

http://www.mediafire.com/file/snlogvyygz0/sisi negatif polifarmasi.wmv

atau

http://www.mediafire.com/?snlogvyygz0

Puyer Lebih Mahal dari Obat Jadi (7.85 MB)

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia dan sejumlah penelitian membuktikan,
puyer ternyata tidak lebih murah dari obat jadi. karena obat jenis ini
diracik dari beberapa jenis obat paten.

http://www.mediafire.com/file/mlcjmpmitbv/puyer lbh mahal dari obat jadi.wmv

atau

http://www.mediafire.com/?mlcjmpmitbv

Menkes: Puyer Masih Bisa Digunakan (3.28 MB)

Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari menyatakan puyer masih tetap
dipergunakan, sejauh obat yang dipakai untuk puyer masih bisa
dipertanggungjawabkan.

http://www.mediafire.com/file/1212hnwxfbz/menkes puyer msh bisa digunakan.wmv

atau

http://www.mediafire.com/?1212hnwxfbz

Puyer untuk Anak Lebih Manjur? (6.33 MB)

Sejumlah orangtua mempercayai puyer lebih berkhasiat dibandingkan obat jadi.
Sementara, Farmakolog UI dr Riyanto Setyabudi mengatakan anggapan itu
merupakan sugesti.

http://www.mediafire.com/file/odzppynhdzm/puyer untuk anak lbh manjur.wmv

atau

http://www.mediafire.com/?odzppynhdzm

IDI: Puyer sebagai Opsi Obat bagi Anak (1.84 MB)

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) masih membenarkan penggunaan puyer dengan
syarat ketentuan dan prosedur yang benar, serta dibuat di bawah pengawasan
pihak yang berwenang.

http://www.mediafire.com/file/ytbditm0d1z/IDI puyer sbg opsi obat anak.wmv

atau

http://www.mediafire.com/?ytbditm0d1z

Kepercayaan, Kunci Utama Pengobatan

Saling percaya antara dokter dengan pasien menjadi kunci utama pengobatan.
Sementara, komunikasi dapat berjalan jika dokter menyediakan waktu lebih
untuk berkonsultasi.

http://www.mediafire.com/file/mfwzdvm5ueg/kenali pengobatan rasional.wmv

atau

http://www.mediafire.com/?mfwzdvm5ueg

Penggunaan Puyer Tidak Masalah Selama Prosedurnya Benar

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Dr Fachmi Idris menyatakan penggunaan
puyer merupakan suatu opsi dalam pengobatan dan tidak masalah selama syarat,
ketentuan, dan prosedur dilakukan secara baik dan benar.

http://www.mediafire.com/file/1fgya4meg5d/IDI penggunaan puyer tidak masalah.wmv

atau

http://www.mediafire.com/?1fgya4meg5d

Puyer Tidak Banyak Dikenal di Malaysia

Obat racikan atau Puyer ternyata tidak banyak dikenal oleh kalangan medis di
Malaysia. Para dokter dan ahli farmasi di Malaysia selalu meresepkan obat
jadi dari pabrik dengan alasan keamanan.

http://www.mediafire.com/file/weymzjj5mhc/puyer tidak banyak dikenal dimalaysia.wmv

atau

http://www.mediafire.com/?weymzjj5mhc
Bagi yang mau streaming, bisa ke http://video.okezone.com/tags/puyer

59% Obat Tidak Perlu Dikonsumsi Anak? (9.34 MB)

Berdasarkan data Badan Kesehatan Dunia (WHO), 59 persen obat tidak perlu
dikonsumsi anak. Sementara, penelitian Yayasan Orangtua Peduli menyatakan 80
persen penyakit anak dapat disembuhkan oleh daya tahan tubuh anak.

http://www.mediafire.com/file/mus5vzdpfxi/59_persen_obat_tidak_perlu.wmv

atau

http://www.mediafire.com/?mus5vzdpfxi

Obat Puyer Sebagai Obat Alternatif(6.27 MB)

Puyer sudah menjadi obat andalan untuk anak-anak. Selain murah, penyajiannya
pun sederhana. Kontroversi kualitas puyer yang muncul belakangan ini,
dibantah sebagian dokter. Menurut mereka, puyer sebenarnya bisa menjadi
alternatif yang digunakan sebagai pengobatan.

http://www.mediafire.com/file/zmmjumhyyxb/puyer_sebagai_alternatif.wmv

atau

http://www.mediafire.com/?zmmjumhyyxb

Pasien Berhak Dapat Pelayanan Terbaik (2.07 MB)

Setiap pasien berhak mendapatkan pelayanan kesehatan yang terbaik. Hal ini
diinformasikan Komsil Kedokteran Indonesia (KKI) dan Majelis Kehomatan
Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI).

http://www.mediafire.com/file/bhdwddoymdt/pasien_berhak_dpt_pelayanan_terbaik.wmv

atau

http://www.mediafire.com/?bhdwddoymdt

Bahaya, Puyer yang Dibuat Tidak Higienis(5.29 MB)

Sebuah apotek di Jakarta kedapatan dalam pembuatan puyer dilakukan tidak
higienis, dimana mangkuk pembuatan puyer atau mortar terlihat tidak bersih.

http://www.mediafire.com/file/v52yhjlmiyz/bahaya_puyer_yg_tidak_higienis.wmv

atau

http://www.mediafire.com/?v52yhjlmiyz

February 15, 2009 Posted by | Artikel | Leave a comment

Puyer, Quo Vadis…???

Oleh : Ida Z. Hafiz Dra, Apt, Msi

Historis :

Sejarah Peracikan Obat di Indonesia dimulai pada zaman Penjajahan Belanda berdasar Reglement(=Peraturan) DVG kemudian dilanjutkan dengan Peraturan Pemerintah RI.

Peraturan tersebut diatas menyatakan yang berhak melakukan Peracikan Obat di Indonesia adalah :

1. Apoteker ( Ijazah,Sumpah, SIK/SP, SIA , PERMENKES No.922/93 )

2. Asisten Apoteker (Dibawah Pengawasan Apoteker di Apotik)

3. Dokter Khusus untuk suntikan,kecuali dalam keadaan darurat,di daerah terpencil yang tidak ada Puskesmas/Apotik boleh menyimpan obat (PP No.1/1988)

Pengertian Peracikan obat :

1. Peracikan Obat (Dispensing) : adalah perubahan bentuk atau penyerahan obat dengan maksud kesehatan Reglement DVG)

2. Peracikan Obat (Dispensing) : adalah semua kegiatan yang terjadi setelah resep ditangani di apotik sampai obat dan atau bahan obat lain yang di resepkan diserahkan pada pasien. (Standard for dispensing Procedures, Azwar Daris)

3. Peracikan Obat (Compunding ) : preparation, mixing, assembling, packaging or labeling of a drug or device as a result of a practitioner’s prescription drug order based on the patient/pharmacist/prescriber relationship in professional practice.(FDA-Act 1990)

4. Apotek melakukan Pelayanan Kefarmasian yang meliputi; Pembuatan,pengolahan, peracikan, pengubahan bentuk, pencampuran, penyimpanan dan penyerahan obat atau bahan obat. (KEPMENKES No. 1027/Menkes/SK/IX/2004)

5. Apotek Rakyat melakukan Pelayanan Kefarmasian antara lain penyerahan obat dan perbekalan kesehatan , akan tetapi dilarang meracik obat.(Permenkes 284/Menkes/PER/III/2007)

Mengapa dilakukan Compounding ? Professional satisfaction, Individualizing products to meet patient needs, Working with physicians for excellent patient care, Preparing drugs for research, Radio-pharmaceuticals requiring special procedures. Patient populations who need compounding are : Children, elderly, dermatological patients, Hospice patients, veterinary patients

FAKTA :

Berikut akan disampaikan fakta mengenai model penulisan resep di Indonesia; bentuk sediaan yang banyak diracik berdasarkan model peresepan tersebut; data beberapa peresepan puyer untuk anak di Jakarta; serta pro dan kontra di antara praktisi dalam peresepan puyer untuk anak.

1. Model peresepan dokter di Indonesia dapat dikategorikan menjadi :

a) Resep obat paten/jadi/generik

b) Resep obat racikan dari bahan obat

c) Resep obat racikan dari obat paten/ jadi (1 atau lebih ) d) Resep obat racikan dari campuran obat paten/ jadi/generik dan bahan obat

2. Bentuk sediaan yang banyak diracik berdasarkan model peresepan no.1.c dan 1.d. di atas adalah puyer yang komponennya berupa campuran tablet yang digerus kemudian dibungkus kertas perkamen untuk bayi atau di masukkan ke dalam kapsul untuk dewasa. Selain itu juga peresepan obat topikal umumnya berupa campuran antara krim obat paten dengan serbuk bahan aktif.

3. Data yang diperoleh dari beberapa tempat pelayanan kesehatan, mengenai peresepan puyer untuk anak di Jakarta :

a) Setiap hari rata-rata apotik Rumah Sakit X di Jakarta membuat 130 resep puyer untuk memenuhi permintaan resep dokter.

b) Data dari Apotik X di Tangerang , dari sekitar 30 lembar resep obat untuk anak-anak yang masuk setiap hari , 2/3 dari obat yang diresepkan adalah dalam bentuk puyer.

c) Demikian juga data dari Apotek Klinik Spesialis Anak, X di Jakarta Selatan

4. Terdapat pro dan kontra di antara praktisi dalam peresepan puyer untuk anak, sebagai berikut : Alasan praktisi (di Indonesia) yang setuju dengan peresepan puyer untuk anak :

a) Keunggulan puyer dibandingkan bentuk sediaan jadi buatan pabrik adalah mudah mengatur dosis dan kombinasi obatnya sesuai dengan kebutuhan pasien.

b) Dosis obat dapat disesuaikan dengan berat badan anak secara lebih tepat,sehingga tidak perlu dikhawatirkan akan kelebihan atau kekurangan dosis, kecuali bila dokter salah menghitung dosis.

c) Obat racikan lebih manjur karena dokter bisa mengatur dosis berdasarkan berat badan (BB)dan juga kadang mencampur 2 jenis obat penurun panas agar lebih cepat bereaksi.

d) Dari segi harga tergolong lebih murah

e) Obat yang diserahkan kepada pasien hanya satu macam, dalam satu bungkus puyer yang merupakan gabungan beberapa obat , sehingga kita bisa memberikan obat yang benar-benar dibutuhkan oleh pasien

f) Cara Pemberiannya cukup mudah khususnya untuk anak yang masih kecil yang belum dapat menelan tablet.

g) Solusi jitu bila tidok boleh meresepkan puyer…barangkali pabrik obat disuruh bikin obat kecil2 seperti permen berdasarkan berat badan si bayi misalnya?

h) Apakah bentuk sirup dapat menjamin dosis yang diminum lebih “tepat”; dibanding puyer mengingat adanya kemungkinan tertumpah pada waktu meminumkannya, takaran sendok tidak sama, tidak pas takarannya, ataupun mengendap karena tidak dikocok dulu sebelum diminum.

i) Dari sisi peminum puyer; peracikan puyer harus tetap ada karena anak kecil tidak bisa minum obat tablet, bahkan ada anak yang bisa muntah bila diberi tablet.

j) Kalau cara pembuatan puyer yang bermasalah, sebaiknya cara pembuatanya yang distandardkan . Buat SOP (Standard Operating Prosedur) dan aturan main yang jelas.

k) Di label kemasan obat seringkali dosisnya tidak sama dengan dosis yang di inginkan karena pada label obat jadi dosis yang dicantumkan berdasarkan umur.(Aturan BPOM ) sehingga puyer tetap perlu.

Alasan praktisi (di Indonesia) yang tidak setuju peresepan puyer untuk anak :

a) Praktek pembuatan puyer terkait violation terhadap :

1) praktek pembuatan obat yang benar alias Good manufacturing pratices (GMP)

2) praktek peresepan yang benar alias Good prescribing practices (GPP)

b) Obat racikan meningkatkan kemungkinan efek samping dan interaksi obat.

c) Apabila produk sirup untuk anak tidak dipakai, karena dianggap dosisnya kurang tepat ke berat badan, harus diingat bahwa ada range of therapeutic dose, dan margin of safety pada pemakaian obat.

d) Karena dalam satu pulveres dapat terdapat lebih dari satu obat, maka yang ditakutkan adalah adanya interaksi antar obat tersebut.

e) Waktu yang dibutuhkan untuk penyediaan obat dalam bentuk puyer relatif lebih lama dibanding tablet akan membuat kualitas pelayanan kurang.

f) Pada pembagian pulveres tidak di timbang satu per satu untuk tiap bungkus ada kemungkinan berat antara satu bungkus dengan bungkus yang lain tidak sama.

g) Kemungkinan kesalahan manusia dalam pembuatan obat racik puyer ini tidak dapat diabaikan, misalnya kesalahan menimbang obat, atau membagi puyer dalam porsi2 yang tidak sama besar.

h) Sulit melaksanakan kontrol kualitas pada pembuatan obat racikan puyer.

i) Stabilitas obat tertentu dapat menurun bila bentuk aslinya digerus, misalnya bentuk tablet salut selaput (film coated), tablet salut selaput (enteric coated), atau obat yang tidak stabil (misalnya asam klavulanat) dan obat yang higroskopis (misalnya preparat yang mengandung enzim pencernaan)

j) Toksisitas obat dapat meningkat, misalnya preparat lepas lambat bila digerus akan kehilangan sifat lepas lambatnya.

k) Efektivitas obat dapat berkurang karena sebagian obat akan menempel pada blender/mortir dan kertas pembungkus. Hal ini terutama terjadi pada obat-obat yang dibutuhkan dalam jumlah kecil,misalnya puyer yang mengandung klorpromazin

l) Pembuatan obat puyer menyebabkan pencemaran lingkungan yang kronis di bagian farmasi akibat bubuk obat yang beterbangan ke sekitarnya. Hal ini dapat merusak kesehatan petugas setempat.

m) Obat racikan puyer tidak dapat dibuat dengan tingkat higienis yang tinggi sebagaimana halnya obat yang dibuat pabrik karena kontaminasi yang tak terhindarkan pada waktu pembuatannya.

n) Pembuatan obat racikan puyer membutuhkan biaya lebih mahal karena menggunakan jam kerja tenaga di bagian farmasi sehingga asumsi bahwa harganya akan lebih murah belum tentu tercapai.

o) Dokter yang menulis resep sering kurang mengetahui adanya obat yang tidak boleh dibuat puyer seperti preparat enzim.

p) Peresepan obat racik puyer meningkatkan kecenderungan penggunaan obat irasional karena penggunaan obat polifarmasi tidak mudah diketahui oleh pasien.

q) Off label use terjadi pada praktek-praktek kefarmasian di apotek seperti meracik/menggerus tablet untuk dijadikan puyer atau dimasukkan ke dalam sirup untuk sediaan anak, atau menggeruskan tablet atau kaplet untuk dijadikan salep dan krim .

r) Puyer sarat & kental masalah safety dan kualitas.

s) Di Jakarta ada 2 rs swasta yang melarang praktek pembuatan puyer namun dapat resistensi dari providernya

t) Kestabilan obat racikan dibanding dengan obat buatan pabrik lebih rendah

ANALISIS

Dari historis dan fakta yang telah diuraikan di atas, untuk mencoba menganalisis peresepan puyer untuk anak dari segi teknis farmasi dengan mengetengahkan beberapa contoh resep yang dapat mewakili. Analisis dari segi kerasionalan pemberian campuran pada contoh-contoh di bawah ini :

1. R/ Metilprednison 4 mg mf pulv dtd No. XX Aturan pakai:

14/4 – 16/4/08: 3×21/2 bungkus
20/4 – 23/4/08: 3×1 bungkus
24/4 – 27/4/08: 3×1/2 bungkus
28/4 – 30/4/08: 2×1/2 bungkus
========================

Pro: An. xxxxxxx ( 9 bulan)

WD /Syndroma nefrotik.)

Resep dituliskan oleh mahasiswa xxxxx tk.5 yang sedang berada di Dep.xxxx xxxx xxxxx

Analisis:

1.Penulisan nama obat seharusnya metil prednisolon, harus di konfirmasi kebenaran nama tersebut

2.Jumlah total puyer yang diminta adalah 39 bungkus, tertulis 20 bungkus. Perlu konfirmasi mengenai jumlah yang diresepkan.

Komentar: Penulisan resep ini memang dapat membuat penyiapan obat yang lama dan dapat menurunkan mutu pelayanan di apotik . Mengingat ketersediaan tablet metil prednisolon adalah 4 mg, 8 mg dan 16 mg sebaiknya peresepan langsung bentuk tablet dan pasien diberikan edukasi mengenai cara pemberiannya. Bila di Rumah Sakit maka dapat di siapkan per single unit dose

2. Resep yang berasal dari Klinik Spesialis dan Umum di Jakarta Selatan.

Ketersediaan produk:

a) R/ Hexer 1/3 Hexer :

Ranitidine tab.150 mg,caplet 300 mg Dometic 1/3 Dometic:Domperidon tab. 10 mg, sirup (5mg/5ml ) 60 ml Largactil 1/3 Largactil : Chlorpromazine tab. 25, 100 mg m.f.p.dtd. No.X S.t.d.d. I .a.c ————————

b) R/Neurosanbe plus175 mg Neurosanbe plus (Sugar coated tablet) Isi : Alegi 1/2 ; Vit B1 50 mg, Vit B6 100 mg, Luminal 7,5 Vit B12 100 mcg, metamizol Na 500 mg Efedrin 4 mg Alegi tab Isi : Codein 3 mg Dexametason 0,5 mg Lapimuc 1/3 Deksklorfeniramine maleat 2 mg DMP 5 mg Lapimuc : Ambroksol HCl tab 30 mg m.f.p.dtd. No.XII S.t.d.d. I .a.c ————————

Pro: xxxxxx (5 tahun)

Analisis:

Resep2a.: Hexer 1/3,Dometic 1/3 dan Lapimuc 1/3 ; karena tidak dijelaskan satuannya , perlu konfirmasi apakah tablet atau gram. Hexer apakah tablet( 150 mg ) atau kaplet (300mg) yang diambil karena dosisnya berbeda. Perlu konfirmasi.

Resep 2b. : Neurosanbe plus 175 mg, tidak dapat diketahui jumlah tablet yang diambil.

Asumsi yang diperlukan adalah metamisolnya, maka jumlah metamisol yang dibutuhkan 175mg x 12 =2100 mg . Jumlah tablet yang diambil 4 1/10 tab. Luminal 7,5. Bila dalam resep tidak dicantumkan satuan maka kesepakatan diambil gram, yang berarti 7,5 gram luminal per bungkus perlu konfirmasi. Komentar: Resep puyer ini sarat & kental dengan masalah safety dan kualitas seperti yang telah disebutkan oleh praktisi yang tidak menyetujui peresepan puyer. Farmasis harus mulai mempersoalan peresepan yang seperti ini. Berat badan pasien sebaiknya dicantumkan sehingga dapat diketahui dosis yang diberikan. “.

“…how horrifying Puyer (pooier) is …..”

SOLUSI/ KESIMPULAN:<!–[if gte mso 9]> Normal 0 false false false MicrosoftInternetExplorer4 <![endif]–><!–[if gte mso 9]> <![endif]–>

1.<!–[endif]–>Penulisan resep dalam bentuk racikan yang terdiri dari campuran tablet paten/jadi kemudian digerus dijadikan sediaan puyer atau di masukkan ke dalam sirup) perlu untuk segera dikoreksi

2.<!–[endif]–>Evidence Based Medicine (EBM) yang merugikan akibat penulisan resep racikan harus disosialisasikan sehingga di harapkan dapat menimbulkan awareness yang tinggi dari semua pihak (prescriber, pharmacy practice, organisasi profesi IDI , ISFI dll)

3.<!–[endif]–>Walaupun ada istilah Medical is an art….bukan lalu berartilost of art . Dalam hal masih dibutuhkan peracikan obat sebaiknya dibatasi hanya untuk obat yang belum tersedia formulasinya untuk anak. Dengan mengingat bahwa hanya tablet konvensional yang dapat digerus, bukan dari jenis coated tablet(enteric coated, sugar coated, film coated, dll), juga bukan dalam bentuk kapsul granul.

 

4. Lost of art jugaberasal dari pharmacy practice, karena faktanya apotik tetap menyiapkan obat puyeryang irasional terutama dari segi formulasi

5.  Edukasi kepada orang tua dalam hal pengobatan untuk anaknya.

 

cp_resep1
cp_resep2

February 14, 2009 Posted by | Artikel | 2 Comments

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,157 other followers

%d bloggers like this: